Setiap ada masyarakat
etnis Tionghoa dan peranakannya di suatu tempat, pasti akan ada perayaan Tahun
Baru Imlek. Di belahan dunia mana pun, tak akan luput dengan acara Tahun Baru
China. Jogja tak terkecuali. Ritual Imlek di Jogja dipusatkan di dua kelenteng
bersejarahnya, yakni Klenteng Kranggan dan Klenteng Gondomanan. Pada Tahun Baru
Imlek 2569, saya turut menghormati ritual Imlek di Klenteng Gondomanan dan beruntung
bisa mengabadikannya.
Klenteng
Gondomanan atau Fuk Ming Liao telah ramai sejak pagi hari. Masyarakat Tionghoa begitu
antusias menjalankan ritus berdoa bagi agama dan atau leluhurnya untuk menyongsong
Tahun Anjing Tanah. Nama Fuk Ming Liao berarti kelenteng berkah tiada tara. Makanya, Kelenteng Gondomanan terkenal bagi
khalayak Tionghoa sebagai tempat meminta berkah dan kemakmuran.
Asap pembakaran dupa, lilin dan kertas kuning memenuhi seantero
ruangan. Pengap memang. Namun, hal ini tak menyurutkan orang lalu lalang terus bertakzim bergantian pada beberapa altar di penjuru-penjuru
Klenteng. Tua muda begitu khusyuk memanjatkan doa sambil membakar dupa. Sungguh, pada momen ini, saya merasakan suasana kekhidmatan yang sungguh dalam.
Hadir di
Klenteng Gondomanan seperti hadir pada salah satu tengara di Jogja yang sarat
dengan nuansa toleransi. Riwayatnya, Klenteng Gondomanan berdiri di atas tanah
yang menjadi hadiah dari Sultan Hamengkubuwono II untuk selirnya yang beretnis
Tionghoa pada tahun 1854. Sejak adanya klenteng ini, masyarakat Tionghoa yang
berabad-abad turut mengembangkan Kasultanan Yogyakarta bisa beribadah dengan lebih tenang.
Makanya, sentuhan Jawa turut menghiasi arsitektur pada Klenteng ini, terutama
pada bagian atap sumur langit.
Klenteng
Gondomanan telah menjadi cagar budaya yang diregistrasi Kementerian
Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Menariknya, di lokasi ini sesungguhnya
menjadi tempat ibadah dua agama, Konghucu dan Buddha. Di bagian depan adalah
Klenteng Fuk Ming Liao, di bagian dalam merupakan Vihara Prabha. Saya juga
sempatkan menuju ke bagian Vihara yang memiliki suasana lebih lengang dan
bertempat lebih kecil.
Sebagai
tengara toleransi, Klenteng Gondomanan begitu terbuka kepada masyarakat Jogja. Tak
cuma saya, banyak warga turut masuk mengamati dan memotret ritual Imlek. Pihak
Klenteng juga menyediakan narasi kepada sekelompok pengunjung tentang seluk
beluk ritual Imlek, kehidupan masyarakat Tionghoa di Jogja dan Klenteng
Gondomanan. Di halaman depan, banyak warga setempat berdiam dengan tenang untuk
menunggu pembagian angpao dari umat Tionghoa. Bagusnya, keramaian para
pengunjung tidak mengganggu kekhidmatan prosesi ibadah Imlek.
Seperti
secuil potret di Klenteng Gondomanan, perayaan Imlek di Indonesia punya
tradisinya sendiri yang telah hidup berharmoni dan berakulturasi dengan
kehidupan Nusantara. Sebutan Imlek sendiri, hanya bisa dijumpai di Indonesia
dan beberapa negara Asia Tenggara. Masyarakat China lebih menyebutnya Perayaan
Musim Semi (Chun-jie) atau Bulan Pertama yang Baru (Sin-Cia). Sementara, seantero
dunia lebih suka merayakannya sebagai Chinese New Year dan Lunar New Year. Apapun itu, Imlek dirayakan dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan.
Teruntuk para sedulur Tionghoa sedunia, Selamat Tahun Baru Imlek 2569! Gong Xi Fat Cai, Sugeng Mangayubagyo!
Teruntuk para sedulur Tionghoa sedunia, Selamat Tahun Baru Imlek 2569! Gong Xi Fat Cai, Sugeng Mangayubagyo!