Ruang Riang Lebaran Pesisir Kebumen

21.13


Laguna Pantai Lembu Purwo, Mirit, Kebumen

Libur lebaran adalah waktunya Sutikno bertamasya. Bersama istri dan dua anaknya, Sutikno setiap tahun meluangkan kala untuk bertakzim ke Pantai Lembupurwo, Mirit, Kebumen. Padahal, rumahnya hanya berjarak tak sampai tiga kilometer dari bibir pantai. Namun, hanya setahun sekali saat lebaran inilah dia datang untuk mencumbu air laut selatan. 

Di Pantai Lembupurwo, keluarga kecil nan sederhana ini membiarkan kaki dibelai oleh ombak Laut Selatan. Mereka tak lupa basuhkan air laut ke muka. Kadang, sepasang anaknya yang masih SD bermandi buih ombak. Tak ayal, Sutikno jua harus waspada menjaga buah hatinya agar tak direnggut ombak. Hingga akhirnya, sepuas bermesraan dengan banyu laut, mereka terduduk di atas pasir hitam. Menikmati kemeriahan lalu lalang ribuan manusia sambil menyantap bekal makanan yang dibawa dari rumah.

Cerita Sutikno adalah sepenggal dari ribuan romantika manusia yang berserakan di pantai-pantai pesisir Kebumen. Masyarakat Kebumen dan sebagian masyarakat Jawa pada umumnya memiliki tradisi mendatangi laut selepas Lebaran. Ada kepercayaan bahwa tatkala hadir di laut Selatan dan membasuh muka atau mandi air laut maka akan jadi awet muda dan meruwat sial. 

Van Peursen mengatakan kepercayaan seperti ini mengisyaratkan masyarakat masih berada dalam tahapan mistis. Manusia dan alam bersatu dan tak bisa terpisahkan. Mereka menciptakan ritus-ritus untuk bisa menjalin erat hubungan antara alam dan manusia. Tradisi ke laut saat riyaya seperti ini masih lestari di kalangan orang desa di Kebumen. 

Tapi, tak semuanya hadir di pantai-pantai Kebumen dalam rangka memaknai kepercayaan itu. Ada yang memang karena tidak tahu maknanya. Ada juga yang antipati pada kepercayaan berbau mistis karena dianggap syirik. Namun, tetap ada saja benang merahnya. Bahwa maksud masyarakat hadir di pantai adalah untuk ihwal bertamasya. Membuang penat gundah gelisah. Mengakrabkan bersama keluarga. Mengintimkan pada alam karunia Tuhan.

Ribuan masyarakat akan berbondong-bondong hadir ke pantai di kolong terik sengat matahari. Menjadi panorama khas tatkala puluhan truk dan pickup yang mengangkut rombongan masyarakat dari penjuru kampung merayapi jejalanan sempit jalur selatan. Dokar, gerobak dan becak tak kalah memeriahkan. Mobil pribadi berplat dalam dan luar daerah turut berdesak-desakan. Dan tentunya motor dan sepeda adalah kendaraan yang menjadi mayoritas jalanan. Saya dan sepupu saya ibarat dua titik mungil di antara taburan orang tua, anak muda dan anak kecil yang menyerbu pantai selatan Kebumen.

Keramaian yang terjadi di Pantai Lembu Purwo saat hari ke 8 Lebaran.
Pantai Lembu Purwo yang musiman hanya saat lebaran saja ramainya pun penuh sesak.
Seorang remaja putri menikmati keramaian Pantai Lembu Purwo dengan menunggang kuda.


Bagi pesisir selatan Kebumen, momen lebaran adalah anugerah untuk kawasan yang biasanya sunyi senyap. Tak hanya Pantai Lembupurwo atau lebih dikenal Pantai Rowo yang ramai saja. Sepanjang pantai di pesisir selatan Kebumen juga akan meriah, baik yang telah menjadi pantai wisata maupun yang sekedar pantai musiman.  Pantai-pantai ini pasti dijejali dengan ribuan manusia yang menggaris di batasan laut dan darat. Mereka tumpah ruah memenuhi segala penjuru ruang terbuka beratapkan langit lapang.

Meski saat ini, tiap hari setelah lebaran, setiap pantai ramai pengunjung. Sudah ada tradisi bahwa masing-masing pantai di Kebumen memiliki jadwal khusus. Alasan kenapa harus ada tradisi penjadwalan bergiliran, saya tak tahu. Pantai Lembupurwo ini  ramai pada saat Hari ke 8 dan 9 Lebaran. Pantai yang ramai hanya saat musim lebaran ini dikenal sebagai penghujung akhir keriuhan pantai-pantai Kebumen. 

Hari ke-2 dan 3, keramaian berada di Pantai Bocor atau Setrojenar, yang dikenal sebagai pantai wisata. Hari ke-4 dan 5, keramaian bergeser ke sebelah timur, yakni di Pantai Ambal yang merupakan pantai musiman. Pantai terkenal Kebumen, Pantai Petanahan, akan diserbu masyarakat pada hari ke-6 dan 7 Lebaran. Kemeriahan pantai-pantai Kebumen seperti sambung menyambung, saling mengait dari lokasi satu ke lokasi lain. Gegap gempita pun melanda secara merata di pesisir selatan Kebumen selama sepekan lebih paska lebaran.

“Lebaran tahun ini, saya sudah berkunjung ke semua pantai di Kebumen. Senang aja rasanya menikmati ramai-ramai orang pada setiap pantainya. “ cerita Jatmiko yang datang di Lembupurwo bersama teman sekampungnya. Tetap saja tatkala lebaran, ada juga sekian orang yang datang ke lebih dari satu atau semua pantai seperti Jatmiko ini. 

Pada intinya, kemeriahan pantai mengundang masyarakat untuk turut bercengkerama dalam keramaian. Bukan saja untuk menikmati pesona alam yang terhampar. Lebaran membuat pantai-pantai Kebumen menjadi ruang bebas rakyat untuk berpesta pora tanpa mengenal batasan strata, agama, pekerjaan bahkan batasan niat sekalipun. Semua bercampur baur mengungkapkan ‘kemenangan’ setelah Lebaran. 

Barangkali analisis Clifford Geertz relevan pada realitas ini bahwa riyaya atau lebaran bukan hanya hari besar kaum santri (orang Islam). Riyaya adalah hari yang dirayakan oleh orang Jawa, tidak peduli agama dan kepercayaannya. Riyaya telah memeriahkan pantai-pantai Kebumen dengan sejuta keriangan yang bertebaran di jiwa setiap insan manusia.  


Berkah Dadakan

Pada hari biasa, Sumiyati bekerja sebagai buruh tani di sawah. Momen lebaran ini membuat dia berganti karya menjadi pedagang sate Ambal dadakan di Pantai Lembupurwo. Dibantu anaknya, dia mengharap berkah dari kemeriahan lebaran dimana masyarakat pengunjung akan murah hati membelanjakan uangnya. Terlebih Sate Ambal adalah kuliner khas pesisir selatan Kebumen yang menjadi favorit orang kala berkunjung ke pantai.

“Sehari lumayan bisa dapat untung besar. Alhamdulillah laris. Jauh lebih besar daripada sebulan menjadi buruh tani. “ ungkap Sumiyati dalam bahasa Jawa sambil tersenyum sumringah.

Sumiyati, salah satu warga setempat berjualan sate Ambal. Berkah tradisi lebaran di pesisir selatan Kebumen
Puji, jualan burung berwarna-warni. Pedagang luar daerah yang ikut menikmati keramaian tradisi Lebaran di Kebumen
Pemilik kuda pun mendapatkan banyak berkah selama keramaian Lebaran di Pantai Lembupurwo

Roda ekonomi pesisir selatan selama sepekan lebaran itu berputar kencang. Transaksi penjual dan pengunjung membuat kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat menggeliat. Bukankah ini yang sesunggunya diharapkan dari keramaian di pesisir selatan? Ada manfaat ekonomi yang timbul dari tonggak tradisi yang menancap di kehidupan masyarakat Kebumen.

 Di sinilah rasionalitas menemukan justifikasi yang bisa akrab pada irasionalitas dan hiperrasionalitas tradisi. Inilah pentingnya kenapa sebaiknya perlu ada tradisi yang memobilisasi orang hadir di Pantai Selatan. Jawabannya, agar perputaran uang juga menyentuh daerah pesisir Kebumen yang notabene sebagian masyarakatnya masih berkutat pada kubangan kemiskinan. Setidaknya ada keberlimpahan setahun sekali, meski sebaiknya secara struktural kesejahteraan penting diabadikan sepanjang waktu.

Gula manis keramaian pesisir Kebumen juga menarik Puji yang berdagang burung warna-warni. Wanita asal Kroya, Cilacap rela untuk jauh-jauh berdagang mengikuti jadwal keramaian Pantai Kebumen untuk bisa mengecap manisnya gula ekonomi tradisi lebaran. Tak hanya masyarakat setempat saja yang menikmati, semarak tradisi lebaran juga mengundang pedagang dari luar daerah. Berkah dadakan dari keramaian ribuan orang bisa melambungkan pendapatan siapapun dan apapun pedagang itu.  

Dari setiap tradisi riyaya ke laut ini, Pantai Lembupurwo tentu saja mendapatkan hikmah berupa ramai dikunjungi yang hingga melimpah ruah. Padahal, semestinya tak harus menunggu setiap kali Lebaran. Pantai ini pada dasarnya memiliki potensi besar dikembangkan menjadi  obyek wisata pantai andalan Kebumen. Pantai yang terletak di ujung timur selatan Kabupaten Kebumen ini semestinya tanpa mengenal pengkhususan waktu. Kenapa? 

Saksikanlah, Pantai Lembupurwo memiliki kekhasan laguna yang diapit oleh gundukan gumuk pasir yang menawan. Di sisi gumuk pasir antara laguna dengan lautan terdapat rerimbunan cemara udang yang menyejukkan. Pantas sebagai tempat berteduh dalam terik panas khas pantai atau lokasi jepret menjepret yang eksotis. Hamparan pasir hitamnya juga cukup landai sehingga ombak kencang samudera cukup nyaman membelai kaki, walau tetap tidak ramah sebagai tempat mandi di laut.

Jika terpikat dengan nuansa gurun berpasir khas Timur Tengah, gumuk pasir Pantai Lembupurwo bisa menjadi tempat tepat untuk menjajal sensasinya. Barangkali sandboarding bisa juga dilakukan di sini. Dalam hal budaya, selain tradisi riyaya, Pantai Lembupurwo yang merupakan tepi muara sungai ini memiliki tradisi labuhan laut setiap Bulan Sura. Saat itu, perahu-perahu tradisional dan gethek akan hilir mudik di sungai. Potensi inilah semestinya bisa dikembangkan agar geliat kemeriahan Pantai Lembupurwo sustainable setiap waktu.

Gumuk pasir di Pantai Lembu Purwo. Potensi membuat wisata yang kian menggeliat tanpa kenal musim.
Ombak samudera Hindia yang bergulung-gulung liar. Pengunjung patut waspada.
Rerimbunan cemara udang yang menghiasi Pantai Lembu Purwo. Bisa juga untuk menghadang tsunami.



***

Senja mulai menjelang. Mengusir keramaian di Pantai Lembupurwo. Keriuhan wisatawan mulai melirih karena telah berbondong-bondong mereka menuju pulang. Para pedagang juga mengemasi barang jualannya sambil berpuas hati mengumpul pendapatan. Petang itu, mentari yang perlahan menuju cakrawala menjadi gong simbol penutupan tradisi riyaya ke laut di pesisir Kebumen. Pantai Lembupurwo adalah akhir dari kisah manis gemerlapan manusia bertakzim dalam balutan tradisi lebaran.

Tapi, Jumadi masih menunggu peruntungan terakhirnya. Nelayan asal Lembupurwo ini mencoba meyakinkan para pengunjung yang melangkah pulang dari pantai untuk menaiki perahunya berkeliling laguna. Biaya perorang pun dia turunkan dari tadinya siang 7000 rupiah menjadi 5000 rupiah untuk mengitari tiga kali laguna. 

“Untuk habiskan solar yang tinggal sedikit daripada percuma tak digunakan. “ alasannya.

Beruntung, upayanya membuahkan hasil. Meski tak penuh oleh penumpang, dia tetap memutar perahu yang sehari-harinya ia gunakan untuk melaut mencari ikan. “Lumayan”, katanya, kapalnya bisa memperoleh pendapatan kotor sampai sejuta rupiah di puncak keramaian Pantai Lembupurwo. Baginya, ini pun bisa menjadi akhir yang riang sebelum dia menjalankan rutinitasnya sebagai nelayan yang harus berlayar pada lautan ketidakpastian.

Sama seperti para wisatawan dan pedagang, saya juga pulang dengan rasa puas dan riang. Bisa mencumbu air laut telah menggugurkan agenda tahunan saya yang rutin datang ke laut setiap kali lebaran. Apakah saya akan lantas jadi awet muda dan terbuang sial? Pada urusan ini, lebih baik saya lebih berikhtiar secara rasional.  

Kapal untuk wisata keliling laguna Pantai Lembu Purwo.
Ombak melibas kaki para pengunjung.
Kuda wisata sengaja disuruh untuk berjingkrak. Tujuannya agar badan kuda lebih tegap, lebih disukai pengunjung
Mentas dari lautan. Menuju haribaan daratan.
Rimbunnya cemara udang. Meneduhkan Pantai Lembu Purwo.
Laguna, Laut Selatan, Gumuk Pasir dan Hutan Cemara Udang. Suguhan komplit Pantai Lembu Purwo.
Berlarilah dengan harapan. Sambutlah ombak samudera yang gahar! Tapi tetap hati-hati ya Dik. :)
Jumadi dan kawan nelayannya. Memulung rizki sebagai ojek keliling laguna. Berkah keramaian tradisi Lebaran
Dari setiap sampah yang terbuang, itulah berkah untuknya.

You Might Also Like

0 komentar

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe