Wae Rebo, Kopi dan Tenun

10.45

Wae Rebo, kampung dipeluk mesra oleh awan. Eksotis

Kabut mulai turun dari puncak-puncak perbukitan yang mengelilingi kampung Wae Rebo. Negeri kecil ini pun tersaput oleh panorama serba putih. Sesekali gerimis menyapu ringan yang membawa hawa sejuk di tengah siang. Tapi, tak berarti realitas Wae Rebo lantas sepi tersibak muram. Kemeriahan geliat warga pun dengan mudah ditemukan di setiap penjuru kampung yang telah terkenal di seantero jagat.

Kampung Wae Rebo adalah realitas sebuah kampung mini yang mendunia baru menusantara. Letaknya yang sangat terpencil ternyata sudah bergaung ke berbagai penjuru dunia. Betapa tidak, kunjungan wisatawan mancanegara lebih dulu mendominasi beberapa tahun lalu dibanding wisatawan domestik.

Pada tanggal 27 Agustus 2012, sebuah sejarah besar untuk Wae Rebo tercipta. Badan PBB untuk pendidikan dan kebudayaan, UNESCO, menganugerahi Wae Rebo sebagai peraih Award of Excellence pada UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation. Sebuah penghargaan tertinggi dalam bidang konservasi warisan budaya. Wae Rebo mengalahkan pesaing-pesaingnya di Asia yang tak kalah berkualitas. Sejak saat itu gaung Wae Rebo mulai nyaring terdengar di negeri sendiri, di tingkat internasional Wae Rebo juga makin masyhur.

Adalah Mbaru Niang yang menjadikan Wae Rebo terkenal dan mendapat penghargaan. Mbaru Niang merupakan rumah khas orang Manggarai berbentuk kerucut raksasa. Meski begitu, keberadaannya di Manggarai telah digantikan mayoritas rumah ‘generik’ yang berbentuk persegi dan beratap seng.

Hanya di Wae Rebo, konstruksi Mbaru Niang dapat lestari dan berjumlah lengkap, yakni tujuh buah. Saat ini, Wae Rebo telah menjadi tujuan wisata unggulan di Flores. Perlahan tapi pasti aktivitas ekonomi masyarakat setempat pun bergeliat.

Khusyuk menenun.
Menenun menjadi rutinitas hidup bagi Lena dan perempuan Wae Rebo lainnya.

Di kolong lantai salah satu Mbaru Niang, Lena (32) tampak khusyuk memainkan benang-benang di alat tenun tradisionalnya. Dia menyibukkan sepanjang hari ini untuk menciptakan kain tenun khas Wae Rebo. Setiap perempuan di Wae Rebo memang mesti ahli dalam menenun. Menenun menjadi salah satu kesibukan perempuan Wae Rebo  sekaligus untuk menambah penghasilan keluarga.

“Kain ini kalau terus menerus dikerjakan bisa jadi dalam waktu seminggu.” ungkap Lena. Satu kain tenun setidaknya jika dijual bisa berharga mulai dari Rp 500 ribu. Tapi, sebagian juga dipakai untuk keperluan pribadi. Saya mengamati kain yang sudah jadi memang begitu indah nan anggun.

Saya kini berpindah ke lokasi di luar kampung utama Wae Rebo. Saya mencoba mengulik kehidupan kopi Wae Rebo. Mama Sisca tampak sedang menumbuk kopi beserta putrinya. Dia menumbuk kopi yang langsung dipetik dari kebun kopi di sekitar rumahnya. Kopi menjadi penghasilan utama bagi masyarakat Wae Rebo. Masyarakat menanam kopi arabica dan robusta. Tatkala saya memasuki kampung Wae Rebo tadi, saya sudah disambut dengan hamparan kebun kopi. Andai saat itu sedang musim panen kopi pasti meriah dengan aktivitas warga memetik biji kopi.

Kopi Wae Rebo memiliki kekhasan yang sangat baik. Betapa tidak, ditanam di ketinggian di atas 1.500 meter, kopi Wae Rebo menjanjikan kualitas tanaman kopi yang terjaga oleh iklim sejuk. Selain itu, yang paling penting adalah kopi Wae Rebo sangat organik. Tak ada bahan kimia yang tercampur pada tanah tempat tumbuh kopi Wae Rebo.  

Di Kampung Wae Rebo, saya menikmati tiga gelas kopi dalam jangka waktu yang hampir bersamaan. Jelas saya tak berani menjajalnya jika meminum kopi sampai tiga kali ini di kota di Jawa. Pasti perut saya akan mual. Tapi di Wae Rebo, saya begitu enteng menjajalnya. Saya teringat dengan ucapan Bang Ary Suhandi, seorang direktur eksekutif INDECON yang masuk ke Wae Rebo secara bersamaan dengan saya setahun lalu. INDECON adalah salah satu LSM yang menggiatkan ecotourism di Wae Rebo.

Sisca menumbuk kopi. Kopi adalah lahan hidup andalan masyarakat Wae Rebo
Biji kopi Arabica yang sudah matang memerah. Kopi Wae Rebo sangat organik.

“Manusia mengalami adaptasi penuh di lingkungan yang alami seperti Wae Rebo. Alam mendukung aktivitas apapun yang harmonis dengannya. Termasuk kopi yang diminum, orang luar akan merasa berlaku seperti apa yang orang Wae Rebo lakukan.” ungkap Ary yang sudah diangkat menjadi warga istimewa di Wae Rebo.

Kabut masih awet menunggui Wae Rebo. Ya sudah pasti karena banyak yang bilang Wae Rebo adalah negeri yang diselimut kabut. Misty Wae Rebo, begitulah sebutan populernya. Sambil menunggu kabut pergi, saya lantas mengakrabi bocah-bocah kecil Wae Rebo. Mereka banyak berkeliaran di lingkaran Mbaru Niang. Yang membuat saya begitu suka dengan bocah-bocah Wae Rebo adalah mereka begitu suka difoto. Ekspresi polosnya menyiratkan ketentraman jiwa yang jauh dari modernitas peradaban. Senyum manisnya memberi saya kegembiraan sejati di Wae Rebo.

Saya paham beberapa jam di Wae Rebo tak kan mungkin membuat saya tahu seluruh pesona Wae Rebo. Namun ketika mengakrabi mahakarya Mbaru Niang,keindahan kain tenun, kenikmatan kopi, dan kelucuan bocah-bocah di Wae Rebo, saya serasa menangkap intisari kampung yang begitu eksotik ini. Sekalipun sudah pernah menikmati Wae Rebo, saya tak akan ragu jika suatu saat nanti pulang kembali ke Wae Rebo. Selalu ada ruang unik cerita yang menghinggapi Wae Rebo.

Mohe Wae Rebo! Hidup Wae Rebo!



Catatan:
- tulisan ini merupakan rangkaian kisah perjalanan saya mengikuti Adira Faces Of Indonesia #UbekNegeri Copa de Flores yang diselenggarakan Adira Finance dan Bank Danamon pada tanggal 14-19 Maret 2014
- tulisan ini juga bisa ditemui di https://www.adirafacesofindonesia.com/article.htm/2936/Mengakrabi-Wae-Rebo


Membuat bubuk kopi dengan cara tradisional. Ditumbuk dengan alu. 
Kopi yang sedang ditumbuk. Harus dilakukan berulang-ulang sampai halus.
Hampir di setiap pekarangan warga ada tanaman kopi. Kopi ini masih hijau belum matang. Tunggu seminggu lagi.
Mama Sofia menjajakan tenun dan kopi khas Wae Rebo.
Edo menjadi sekelumit bocah Wae Rebo yang menyemarakkan kehadiran kami saat itu. Polos sekali.
Pak Rafael Liwang dan sekeluarga yang menghuni salah satu Mbaru Niang.
Seorang nenek sepuh di Wae Rebo. Dia bingung saat kami datang. Tak bisa bahasa Indonesia.
Wae Rebo beranjak disaput kabut. Makin dingin, makin eksotis.

You Might Also Like

1 komentar

  1. cara membuat kopinya sangat tradisional sekali, rasanya mungkin akan sangat berbeda dengan kopi yang di olah dengan cara modern..

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe