Torosiaje, Kisah Kampung di Atas Laut

08.13

Torosiaje, Kampung Suku Bajo sang pengembara laut.

“Desa ini benar-benar berada di tengah laut, jauh dari pantai! Keterpencilan dan keanggunan desa di tengah laut itu membuatku sangat takjub. Torosiaje tampak bagaikan dunia tersendiri yang tertutup.”

Saya tahu Torosiaje dari François-Robert Zacot. Buku karyanya “Orang Bajo Suku Pengembara Laut, Pengalaman Seorang Antropolog” yang saya baca tempo waktu, serasa mengundang saya untuk bertakzim ke desa obyek penelitiannya semasa empat dekade lalu. Maka, tatkala berkunjung ke Gorontalo, saya pun sempatkan pergi ke desa orang Bajo yang terletak di Kecamatan Popayato, Kab. Pohuwatu. Masihkah desa ini seperti yang dikisahkan Zacot?

Tepat petang bersalin malam, saya tiba di Dermaga Torosiaje. Gerimis baru saja mereda membuat udara pesisir yang lembap setia menyergap. Delapan jam merayapi jalan Trans Sulawesi sejauh  270 km dari Kota Gorontalo ini sungguh melelahkan. Begitu turun dari mobil, beberapa orang langsung mendatangi saya seraya menawarkan ojek perahu. “Kampungnya di laut sana, 600 meter dari pantai”.

Akhirnya saya memilih diantar Darwis (43). Untuk menuju perahu, kami berjalan 150 meter di atas jembatan yang membelah rimbunnya hutan mangrove yang membentengi pesisir selatan Pohuwatu dari abrasi laut. “Tadinya jembatan akan dibangun sampai kampung Torosiaje. Jelas warga Torosiaje menolak.” ungkap Darwis, penduduk Torosiaje yang sudah 16 tahun menjadi tukang ojek perahu. 

Menuju Torosiaje malam hari ibarat seekor laron menuju kerlip-kerlip cahaya yang dikerubung hitam malam. Dengan leppa (sejenis perahu kecil khas orang Bajo) yang hanya muat untuk 8 orang, saya melintasi perairan yang tenang sehabis hujan. Senter Darwis lah satu-satunya penerangan guna memandu perahu. Limabelas menit dalam remang perairan, leppa memasuki perkampungan. Woow.. leppa kami melintasi deretan rumah-rumah panggung yang bertengger 2-3 meter di atas permukaan laut.

Kampung Torosiaje berbentuk seperti “U” yang melebar terbuka ke arah laut Teluk Tomini. Perahu yang berasal dari daratan Sulawesi dapat dianggap datang dari pintu belakang. Orang Bajo selalu menganggap lautan luas adalah beranda utama kehidupannya. Untuk menuju ‘alun-alun’ di tengah Torosiaje, setiap perahu menyusur gang di antara rumah-rumah hingga melintas di bawah jembatan berhias papan kecil bertuliskan “Welcome to Bajo”.

Ketika mulai naik ke atas kampung, saya sebegitu ramahnya disapa setiap warga “Selamat datang di Torosiaje” sambil disalami. Saya yang merupakan orang Bagai –sebutan untuk selain orang Bajo di Torosiaje, disambut penuh nuansa persaudaraan selayaknya orang Sama’ –sebutan untuk sesama orang Bajo. Seorang kerabat Darwis lalu mengantarkan saya ke rumah yang dijadikan penginapan wisata.

Pesta pernikahan di atas laut. Khas Torosiaje
Menuju Torosiaje berarti harus menggunakan Leppa, perahu kecil. Torosiaje berada 600 meter lepas pantai.

Malam itu, Torosiaje tampak ramai. Ada pesta pernikahan di rumah warga di ujung kampung. Berbondong-bondong para warga datang ke hajatan. Buyung Jalil (23) mengajak saya, “Mari datang di pesta pernikahan keponakan saya”

Tarub dan panggung di atas laut, dekorasi sederhana nan anggun serba warna kuning dan hidangan bermenu serba hasil laut, saya rasa hal ini merupakan kekhasan pesta pernikahan di Torosiaje. Namun, alangkah terkejutnya saya ketika para warga berdandan ala orang kota yang ‘kebarat-baratan’ dan serba ‘menor’. Hiburannya pun berupa orkes dangdut dengan biduan yang lebih banyak menyanyikan lagu-lagu dangdut nasional. Suasana pesta di Torosiaje yang bertengger di atas laut pun tak ubahnya seperti pesta nikah di tengah kampung di kota.

Saya saksikan sebagian besar para tamu adalah kaum perempuan. Dimanakah kaum pria? “Para pria ya sedang di laut, mencari ikan. Orang Bajo tidak bisa makan tanpa ikan segar” jelas Buyung.

Setiap hari warga Torosiaje harus melaut agar hidup terus berlanjut. Apalagi saat itu sedang musim melimpah ikan. Di Torosiaje, semua warga akan menyatakan diri sebagai nelayan walaupun ada juga yang bekerja sebagai pedagang, pengrajin kayu, ojek perahu, dan lain-lain. Sulit untuk memisahkan orang Bajo dengan laut.Sama dapu ma di laok. Laut milik Suku Bajo. Begitulah ungkapan yang pasti tertancap di jiwa tiap orang Bajo.

Malam makin larut. Udara laut makin dingin menusuk. Pesta pernikahan jelang usai. Setiap tamu menyalami pengantin sembari berpamitan. Saya juga turut memberi selamat pada pasangan Pupe-Ika yang malam itu menjadi warga paling berbahagia di Torosiaje. Namun, hingga saya beristirahat di penginapan, rumah di ujung kampung tetap saja gempita. Samar-samar, lantunan nyanyian biduan merusuhkan sunyi yang semestinya menyelimuti Torosiaje.


***

Pagi yang sejuk dibuka dengan mentari yang tak begitu riang, terhijab mendung muram. Sejatinya, Torosiaje menjadi tempat mengesankan untuk menjemput baskara terbit dan mengantarkannya terbenam. Namun, tak apalah karena hilir mudik leppa-leppa warga Torosiaje yang masuk keluar perkampungan cukup menghibur saya. Saya lalu berkeliling di kampung seluas 200 Ha sambil membenamkan diri pada kehidupan pagi warga.  

Menjemput mentari di Kampung Torosiaje. 
Suasana keceriaan pagi di rumah Darwis. Berkumpul akrab.

Bagi orang Bajo, sebuah kampung di atas laut merupakan rangkaian perjalanan kehidupan mereka di laut. Bajo dikenal sebagai suku pengembara laut yang jangkauan pelayarannya meliputi seluruh perairan Nusantara. Dulunya suku Bajo selalu tinggal nomaden, berpindah-pindah tempat secara berkelompok di atas soppe, perahu sepanjang 8-10 meter yang dilengkapi atap. Dari pengembaraan suku yang beragama Islam ini, banyak tempat di Indonesia pun memiliki nama, seperti Labuhanbajau di Simeuleu Aceh, Labuhanbajo di Sulawesi Tengah, Labuhan Bajo di Flores, Pulau Bajo-e di Watampone Sulawesi Selatan, dan lain-lain.

Torosiaje merupakan contoh dari proses  penetapan dan pendaratan orang Bajo menjadi sebuah kampung. Masih ‘beruntung’ Torosiaje berdiri di atas laut, lepas dari daratan. Di banyak kampung Bajo lain, masyarakat sudah tinggal di pantai mendirikan rumah panggung bahkan hingga jauh di daratan membangun rumah permanen.

Torosiaje mulai ada sejak tahun 1901 ketika beberapa soppe memutuskan menetap dan mendirikan perkampungan. Nama Torosiaje terdiri dari toro yang berarti tanjung dan si aje yang merupakan sebutan bagi seorang yang dipanggil haji.  Konon, ada seorang Haji yang tinggal di sebuah pulau yang mana sekarang berdiri kampung Torosiaje dan orang Bajo singgah untuk menjual ikan dan kulit penyu. Sekarang, pulau karang kecil tersebut telah tenggelam.

Mengakrabi masa kini Torosiaje berarti menjumpai  kampung yang telah tertata rapi sebagai desa wisata. Gang kayu panggung beratap seng biru dibangun melingkari desa yang bernama administratif Desa Torosiaje Laut.  Fasilitas listrik dan air bersih telah terpasang walau belum optimal untuk menghidupi sekitar 1400 jiwa. Warung makan, toko kelontong, toko alat seluler, dan penginapan tersedia di sudut-sudut kampung. Fasilitas publik seperti sekolah, masjid, puskesmas, dan gedung pertemuan telah cukup memadai.

Saya tertarik singgah di rumah Fadli (24) dan berbaur bersama keluarganya. Momen pagi membuat beranda rumahnya meriah dengan putra kecilnya yang lucu sebagai pusat suasana. Seperti kebanyakan rumah di Torosiaje, rumah serba kayunya begitu sederhana. Sangat sedikit perabotan. Di ruang tamunya hanya ada tikar, kalender dan jam dinding. Meja dan kursi biasanya hanya dimiliki oleh kepala desa, pemuka adat dan pedagang.

Saya terkesan dengan lubang di lantai rumah yang digunakan untuk memberi makan ikan. Jika di daratan orang biasa memelihara ayam, kambing dan sapi, orang Torosiaje lazim memelihara ikan seperti bandeng, kerapu, cakalang, batu dan lajang di kolong lantainya. Sepintas saat melongok lubang, saya melihat serupa akuarium yang penuh kerumunan aneka ikan.

Fadli bersama pemuda Torosiaje bersiap melaut. Selama 14 hari mengelilingi Teluk Tomini untuk mencari ikan.
Hilir mudik Leppa. Awalnya, dengan Leppa lah transportasi utama di Kampung Torosiaje

Pagi mulai lepas landas membuat Fadli bergegas siap melaut. Selama 14 hari ke depan, Fadli bersama tiga rekannya akan mencari ikan di lautan Teluk Tomini. Perahunya tidak besar seperti perahu nelayan yang saya jumpai di Jawa. Peralatannya sangat sederhana. Tak ada layar. Tak ada alat navigasi. Hanya mesin tempel kekuatan sedang yang tampaknya menjadi satu-satunya barang modern di leppa Fadli.

“Orang Bajo kalau mencari ikan tidak banyak-banyak, yang  penting hasilnya cukup untuk makan, sekolahkan anak, dan jaga-jaga kalau keluarga dan kerabat sakit.” ungkapnya sumringah.

Suka duka di laut adalah keniscayaan bagi orang Bajo. Orang Bajo tak akan pernah mengeluh bagaimanapun kondisi laut karena laut adalah jantung kehidupan mereka sepanjang waktu. Di saat musim sepi ikan, Fadli rela menyelam 3 jam di kedalaman laut dengan kompresor untuk mendapatkan ikan. Padahal, menyelam dengan kompresor berbahaya bagi kesehatan dan  keselamatan. Sudah banyak kasus nelayan meninggal atau cacat seumur hidup karena menyelam dengan kompresor.

“Saya lebih takut kalau pulang tidak bisa dapat ikan dan tidak dapat uang.” jelasnya sambil meletakkan bekal-bekal melautnya di leppa.

Saya ikuti Fadli, tapi saya menaiki leppa Darwis yang saya pesan sebelumnya untuk sekedar mengelilingi Torosiaje dari atas air. Perahu Darwis pun turut menjadi bagian dari aktivitas leppa warga yang ramai berseliweran di sela rumah-rumah panggung. Kami berpapasan juga dengan perahu-perahu orang luar Torosiaje yang menjajakan aneka bahan pokok ataupun membeli ikan di Torosiaje. Di pojok kampung, di ujung gang, bocah-bocah yang begitu riang mandi di perairan membuat Torosiaje makin meriah pagi itu.  


***

Saya tidak lama di Torosiaje, siangnya saya sudah kembali ke kota Gorontalo. Sepenggal waktu di Torosiaje cukup menyediakan sejumput realitas bahwa kampung ini telah banyak berubah dari yang saya temukan di buku Zacot. Torosiaje tidak lagi terpencil, tidak lagi tertutup. Tapi, Torosiaje tetap bertahan di atas laut, tetap anggun dan tetap menakjubkan.

Torosiaje telah mendeklarasikan sebagai desa wisata andalan Gorontalo yang terbuka untuk dikunjungi siapa saja. Torosiaje juga menyuguhkan ruang belajar kepada masyarakat luas yang ingin menyelami lautan kearifan dan keteguhan orang Bajo dalam bersandar pada alam maritim sepanjang hayatnya.


Catatan
- Artikel ini dimuat di Koran Tempo edisi Minggu 14 Desember 2014. Artikel di blog ini memiliki konten yang berbeda tetapi mempunyai garis besar cerita yang sama. 
- Menuju Torosiaje tidaklah susah. Hanya butuh tekad keras untuk menuju kampung unik ini. Cara untuk menuju Torosiaje, silakan baca di sini.


Bocah-bocah Torosiaje. Merekalah pewaris Suku Bajo sang pengembara laut.
Pagi yang syahdu di Torosiaje.  Tempat bagus untuk melihat sunrise.
Suasana pagi di Torosiaje. Bersiap keliling kampung dengan leppa. 
Mengelilingi Torosiaje dari leppa. Serunya melihat Torosiaje dari atas air.
Orang Torosiaje memelihara bandeng di karamba di bawah rumahnya. Unik. 
Fadli dan Warga Torosiaje siap berangkat melaut.


You Might Also Like

4 komentar

  1. Kalo ke Wakatobi bukan cuma pesona alam bawah lautnya aja yg eksotis yaa? ternyata suku bajo juga punya tradisi dan kehidupan yang luar biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaah mau ke Wakatobi,, belum pernah ni.
      Pasti akan mampir ke Kampung Bajo di Wakatobi.

      Terima kasih sudah main ke blog saya.. sering-sering ya

      Hapus
  2. keren cerita perjalanannya, kawan..
    sayang sekali perkampungan Torosiaje saat ini terlihat lebih kumuh -_-

    BalasHapus
  3. A very nice article. Suku Bajo itu tahan Banting bgt kalau soal laut. Melihara Bandeng dibawah Rumah juga epic bgt !!!

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe