Traveling Keluarga Melancong Elok Lombok

November 01, 2018


Lombok menjadi primadona pariwisata Indonesia saat ini. Beraneka ragam wisata tersaji secara paripurna di sini. Yang mendamba pantai tropis terbaik, petualangan menakjubkan gunung vulkanik, kehidupan budaya yang lestari, kuliner khas bercita rasa specialty, dan destinasi wisata halal terkemuka, Lombok bisa memenuhi kebutuhan ‘leisure’ paling unggul di Indonesia. Makanya, kali ini saya memilih Lombok sebagai prioritas tujuan travelling saya sekeluarga. Saya hendak mengajak Thole untuk memesrai salah satu pulau teristimewa dan ‘terpedas’ di untaian kepulauan sepanjang garis khatulistiwa – seperti nama belakang Thole.

Cuaca panas khas Lombok langsung menyergap setiba di Bandara Internasional Lombok. Bandara ini begitu riuh dengan kunjungan wisatawan asing. Bulan Juli-Agustus ini memang favorit bagi wisatawan Eropa dan Amerika yang gandrung bermusim liburan dan ingin ‘escape’ dari musim panas yang menyengat, atau juga bagi wisatawan Australia yang ingin kabur dari musim dingin yang menusuk. Dalam penerbangan saya dari Denpasar, wisatawan domestik seperti kami malah  minoritas. Tampak para wisatawan Bule ini mendominasi terminal kedatangan. Tampak pula banyak wisatawan asing sekeluarga yang ingin bervakansi tropikal di Pulau Lombok. Saya pikir, Lombok sudah pantas menjadi destinasi wisata kelas dunia bagi keluarga.

Perjalanan bersama Thole harus diisi dengan aktivitas menyenangkan saat transit di Bandara.


Kembali lagi mendarat kelima kalinya di Lombok International Airport atau Bandara Internasional Lombok.

Kunjungan saya kali ini merupakan yang kelima di Lombok. Rasanya, tak ada bosan untuk bertandang berapapun ke Lombok. Selalu ada pesona yang ingin ditualangi dengan keingintahuan sebagai penikmat perjalanan. Saya memilih menginap di Mataram. Sebagai Ibukota Nusa Tenggara Barat, kota ini tentu lengkap dengan bermacam fasilitas publik. Travelling bersama balita perlu lebih memerhatikan akses fasilitas kenyamanan, tak sekadar pesona destinasinya.

Jarak Mataram dengan Bandara Internasional Lombok adalah sekitar 32 km. Cukup jauh memang, tapi tenanglah - gampang dijangkau dengan mobil pribadi, transportasi umum maupun taksi. Pilihan ber-homebase di Mataram untuk menginap, rasanya strategis untuk bertamasya selama 3 hari 2 malam yang bisa menjangkau berbagai destinasi di Lombok. Perjalanan kali ini, saya mengedepankan nuansa santai, tak terlalu memburu banyak destinasi. Namun, saya tetap gandrung untuk mendapatkan ‘hidden gem’ di Lombok yang mengejutkan. Berikut kisahnya:


Romansa Senja di Malimbu

Yang romantis dari Lombok salah satunya adalah sunset. Begitu tiba di Lombok, agenda hari pertama yang utama langsung bersunset ria. Sebagai penikmat senja, jelas saya tak ingin melewatkan momen peralihan siang terhadap malam. Malimbu adalah pilihan paling menyenangkan bagi saya. Ini bukan soal destinasinya saja, tapi pengalaman berkendara selama 1 jam menjadi ‘kemewahan’ yang kami nikmati. Jalan mengular berkelok-kelok dengan ditandemkan pantai adalah sebuah kenikmatan berkendara. Cahaya sore keemasan makin menguarkan kesyahduan sepanjang jalan.

Bukit Malimbu menjadi favorit memirsa sunset di Lombok.
Bisa membawa Thole melihat lanskap menakjubkan penuh dengan cerita geologis di Lombok adalah investasi orang tua untuk masa depan Thole.

Malimbu begitu istimewa dalam lanskap kebumian geologi Lombok. Area yang masuk dalam geosite Bukit Nipah ini menjadi salah satu titik utama World Geopark Rinjani Lombok. Saya mengajak Thole berjalan menyusuri setapak yang dikerubung ilalang. Wisatawan tampak bersebaran, sepertinya tabah untuk menanti mentari pulang sambil mengabadikan momen. Di bawah kejauhan sana, Pantai Nipah digaris dengan pasir putihnya yang berhiaskan hamparan nyiur di kaki bukit kering keemasan. Kami beruntung sore itu. Kami disambut senja yang tenggelam sempurna dengan bersanding Gunung Agung dan Tiga Gili (Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno) di ufuk barat. Sungguh, Malimbu tak ingkar janji soal senjanya yang istimewa.  


Flaneur Kota Tua Ampenan

Sudut tua nan pusaka sebuah kota adalah salah satu favorit saya dalam mengisi relung perjalanan. Lombok punya ‘heritage city’ yang cukup terawat, yakni Ampenan. Mentari belum jua bersinar terik, tetapi saya sudah keluyuran sejauh 5 km dari Mataram. Saya gemar menyigi momen pagi untuk menikmati harmoni fasad bangunan tua dengan aktivitas bugar masyarakat di kala pagi. Anak sekolah dan para pekerja bergegas berangkat ke tujuannya. Sebagian masyarakat lain mengerubungi penjual nasi dan serabi-lupis di muka bangunan yang bergaya art-deco. Saya sempatkan sarapan serabi-lupis di jalan menuju Pelabuhan Ampenan. Rasanya begitu manis gurih dan mengenyangkan, bisa menjadi bekal perjalanan seharian di Lombok.


Simpang Lima Ampenan dan Cidomo, dokar khas Lombok. Saya di sini menikmati lalu lalang pagi kota tua ini.
Aktivitas pagi di Pantai Ampenan. Untuk melihat


Sarapan srabi dan lopis di Ampenan adalah kenikmatan pagi.  Memang ada larangan berjualan, tapi dikonfirmasi kepada penjual bahwa larangan itu tidak berlaku untuk berjualan pagi hari karena sudah minta izin. Laris manis.

Ampenan dirupa pemerintah kolonial Belanda sebagai kota pelabuhan sejak tahun 1924. Konon, Ampenan didirikan untuk menjadi penyaing perdagangan kerajaan-kerajaan Bali. Jejak pelabuhan itu kini bisa dijumpai di Pantai Ampenan. Saya tiba di pantai ini saat masih sepi. Pantai ini didesain sebagai pantai ‘sunset’ dengan tengara tulisan “PANTAI AMPENAN” menghadap ke laut. Namun begitu, saya puas nikmati udara pagi yang segar dari lautan sambil berjalan menyapa petugas kebersihan.

Tak lama saya tertambat di Pantai Ampenan. Saya beranjak untuk menyusur flaneur lagi di sekujur kota Tua Ampenan. Saya mengikuti laju kencang Cidomo, dokar khas Lombok, yang melintas di jalan utama didekap ruko-ruko yang telah dicat warna-warni. Pada Simpang Lima Ampenan, saya lantas sejenak berhenti. Di sini, saya menikmati derap keramaian kota yang kini kebesarannya telah digantikan Mataram.


Kendhi Maling Banyumulek

“Ke Lombok kali ini saya harus ke Banyumulek. Saya penasaran dengan Kendhi Maling”. Sebelumnya, setiap kali perjalanan Bandara ke Mataram saya tak pernah mampir ke Banyumulek karena faktor transportasi. Padahal, lokasinya tak jauh dari jalan poros Bandara. Rencana perjalanan hari ini ke arah Mandalika saya sengaja minta driver saya, Ibnu, untuk singgah di Banyumulek. Dia lantas mengarahkan ke showroom Berkat Sabar Art Shop.

Ibu Lia memperagakan keunikan Kendhi Maling yang terkenal dari Banyumulek.
Beraneka ragam kerajinan gerabah di showroom Berkat Art Shop. Ini kualitas ekspor lho..
Menjadi pengrajin gerabah adalah keseharian dari Bu Tinah. 

Ibu Lia menyambut saya dengan atraksi Kendhi Maling. Kendhi ini memiliki lubang di bagian dasarnya. Bu Lia menuang air ke dalam kendhi melalui lubang yang diposisikan di atas. Saat dibalik lagi dengan posisi lubang di bawah, air tak tumpah. Aneh bin ajaib, bukan? Seperti cara aneh seorang maling, yang tidak memakai jalan biasa (lewat atap atau lewat jendela, bukan lewat pintu) ketika hendak masuk ke sebuah rumah. Sebenarnya bukan sulap, ini disebabkan sifat tanah yang bisa menyerap air dengan daya kapilaritasnya.

Saya menjelajahi Desa Banyumulek lebih dalam untuk mendekat pada realitas pengrajin masyarakat. Sebelum pamor wisata Lombok tersohor, kerajinan gerabah Banyumulek telah terkemuka menyebar ke penjuru dunia. Hampir 80 persen masyarakatnya merupakan pengrajin gerabah. Pada salah satu rumah pengrajin, saya bertakzim pada Bu Tinah yang begitu terampil membentuk gerabah dari tanah liat.

“Saya sudah membuat gerabah selama 30 tahun ini, sejak saya SD.” tutur Ibu separuh baya yang memiliki 3 anak ini.


Riwayat Kuno Masjid Gunung Pujut

Lombok kondang disebut sebagai Pulau Seribu Masjid. Hampir setiap kampung memiliki masjid yang terbangun begitu megah, nyaris rata-rata 2 tingkat. Hasrat saya mengeksplorasi masjid akhirnya tertuju pada masjid tertua di Lombok, yakni Masjid Kuno Gunung Pujut di Desa Sengkol, Lombok Tengah. Bagi wisatawan sejarah dan budaya, Masjid Gunung Pujut adalah ‘hidden gem’ wisata di Lombok. Lokasinya yang tak jauh dari BIL dan Desa Sade, semestinya ada kesenggangan waktu untuk berkunjung.

Wujud Masjid Gunung Pujut di atas bukit yang begitu sepi.
Bale Lumbung di area puncak Gunung Pujut yang dikerubungi pohon-pohon besar nan tua.
Berdiri di puncak bukit pada ketinggian 400 meter dpal, saya harus menaiki ratusan anak tangga untuk mencapainya. Masjid yang dibangun sekitar tahun ini 1587 ini tampak sepi karena sudah tak digunakan lagi. Bangunan persegi 8,6 x 8,6 meter yang berarsitektur bambu dan beratap tumpang ijuk ini menjadi tengara dari riwayat Islam Wetu Telu yang kini sudah jarang dianut masyarakat Sasak. Masjid Gunung Pujut didirikan di kompleks Kedatuan Gunung Pujut yang dulu berkuasa di wilayah Lombok bagian selatan. Berada di sana sendirian, sungguh saya merasa dikerumuni aura mistis, yang melemparkan pada perkembangan awal sejarah Islam di Lombok.


Hikayat Sasak di Desa Sade

Penduduk asli yang mendiami Pulau Lombok adalah suku Sasak. Jika ingin tahu kehidupan otentik Suku Sasak, datanglah ke Desa Adat Sade. Lokasinya yang berada di pinggir jalan, membuat tak susah untuk singgah sejenak di Sade sebelum meluncur ke pantai-pantai Mandalika. Tari Peresean menyambut tamu yang dengan atraksi perang antar dua pepadu (petarung) lelaki Sasak bertelanjang dada. Saya memilih lekas menyusuri dalaman kampung dengan berjalan di gang yang diapit bale-bale (rumah-rumah) warga. Di depannya, warga menjajakan pernak-pernik kerajinan Sasak serta mendemonstrasikan keahlian menenun.


Pertunjukan Tari Peresean di Desa Sade memikat bagi wisatawan terutama wisatawan asing. 
Lorong-lorong Desa Sade yang sangat menarik ditelusuri.
Bale atau rumah masyarakat Sasak menyuguhkan keunikan yang bisa membuat kita terkesima (atau jijik). Seminggu sekali, lantai Bale akan dipel dengan kotoran kerbau atau sapi yang masih ‘hangat’. “Tapi tenang! Tidak bau. Gunanya untuk menguatkan lantai rumah, mengusir nyamuk dan membuat rumah terus hangat.” ungkap Ono, pemandu saya di Sade. Siang terik di Lombok, membuat saya gerah dan terduduk istirahat teduh di Bale Lumbung. Rupa Bale Lumbung ini begitu karismatik sehingga ditetapkan menjadi arsitektur identitas khas Pulau Lombok. Bagian atas diperuntukkan sebagai penyimpanan padi warga. Benar-benar bangunan multifungsi.



Kerbau dan Kemolekan Selong Belanak

Pantai bernuansa tropis adalah jagoan daya pikat Lombok untuk mendatangkan wisatawan dari seluruh dunia. Di Lombok, saya paling terobsesi untuk menikmati penggalan sore sampai senja di Pantai Selong Belanak. Kalau soal pantai berpasir putih lembut beserta pemandangan perbukitan pesisir, pantai di kawasan Mandalika hampir semua memilikinya. Bagaimana kalau saat senja yang syahdu, pemandangan kita ditingkahi oleh gerombolan kerbau yang melintas pulang di pantai? Atraksi inilah yang mengundang perhatian saya untuk bersemangat datang ke Pantai Selong Belanak

Seru sekali! Saya berkejar-kejaran dengan Thole untuk menikmati sepenggal sore di Pantai Selong Belanak. Saya mencari tempat yang agak sepi agar bebas bermain.

Kerbau menjadi pengharmoni favorit saya di Pantai Selong Belanak. Thole terkesima tapi takut juga melihat gerombolan kerbau banyak melintas.
Pantai Selong Belanak pantas disematkan sebagai pantai favorit untuk bermain air sekeluarga. Dengan ombak yang ramah memeluk pasir putih yang lembut, Thole di sini puas bermain air. Dia juga bebas berlari di pantai tanpa khawatir tersandung kerikil pantai. Tak canggung dia bermain air hingga basah kuyup. Tampaknya, wisatawan asing yang berwisata sekeluarga di Lombok juga memilih Selong Belanak sebagai pantai andalan. Walau ombaknya terbilang ramah, pantai ini juga menjadi tempat berselancar atau latihan selancar dengan gulungan ombak bagus.

Sore mulai mengemas. Sunset hendak datang. Pantai mulai ditinggalkan para wisatawan, terutama domestik. Bule-bule masih berjemur dan sibuk bermain air. Saya khawatir rombongan kerbau dambaan tak jadi melintas. Namun, tepat 10 menit jelang sunset, para kerbau digiring pengasuhnya beriringan memecah kesyahduan menikmati senja. Bocah-bocah bule antusias sekaligus heran melihat kerbau, bahkan ada yang ingin menungganginya. Maklum, kerbau merupakan hewan asal Asia Tenggara yang tak didomestikasi di Eropa, Amerika maupun Australia. Berkat kerbau, senja Selong Belanak terasa sangat spesial bagi saya.


Staycation Nyaman di Santika Mataram

Perjalanan yang nikmat itu memerlukan tempat menginap yang nyaman, terlebih kalau membawa balita. Di Lombok, saya menjatuhkan pilihan tinggal di Hotel Santika Mataram selama 3 hari 2 malam. Nama besar Santika menjadi jaminan mutu untuk menggaet kenyamanan hakiki. Dengan standardisasi berjejaring nasional, hotel bintang 3 ini bisa saya andalkan sebagai tempat beristirahat, sekaligus pemenuh kebutuhan staycation di Mataram.

Lokasinya di jantung kota adalah nilai plus Hotel Santika Mataram. Hotel ini menyasar segmentasi pasar bisnis, tetapi bagi saya tak ada salahnya juga menikmatinya untuk urusan wisata keluarga. Berada di kawasan pemerintahan provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kota Mataram dan dekat pusat bisnis Cakranegara, Hotel Santika Mataram tepat untuk menghelat urusan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Dengan fasilitas 123 kamar dan 7 ruang meeting, Hotel Santika Mataram betul-betul jadi pilihan terbaik di pusat kota Mataram. Apalagi, bersama Lombok sebagai destinasi wisata halal dunia, Hotel Santika Mataram juga melengkapi dengan mushola luas yang memisahkan ruang sholat pria dan wanitanya.


Hotel Santika di malam hari. Strategis di jantung kota Mataram
Lobby Hotel Mataram begitu ikonik, lapang dan merepresentasikan kenyamanannya. 

Ruang meeting yang dilengkapi dengan mushola, tempat sholat yang luas.
Tata lampu yang artistik di lorong-lorong kamar. 

Saya mendapatkan kamar Hotel Santika Mataram Deluxe Room King dengan jendela mengarah ke utara pada pemandangan deretan perbukitan Muteran. Sesuai dengan standar terbaik Hotel Santika, kamar ini dilengkapi dengan fasilitas modern, yakni  TV layar datar dengan saluran TV kabel, akses WiFi gratis, mini bar, meja kerja, dan lemari. Begitu masuk, nuansa sejuk di tengah terik Mataram langsung saya rasakan, ibarat oase di panasnya gurun. Thole lalu langsung antusias menjajal empuknya kasur dengan menjajal loncat-loncatan. Suguhan air mineral dan buah-buahan langsung saya nikmati untuk menghalau dahaga.

Menengok ke kamar mandinya, saya langsung disambut dengan higienitas dan kerapiannya. Kamar mandi dilengkapi dengan shower yang bisa menyuguhkan air dingin dan air panas terjamin. Kloset toilet didesain cukup lega dengan pengucur ramah masyarakat Nusantara. Kamar mandi ini juga dibekali dengan toiletries dan handuk. Menariknya, kran air Hotel Santika Mataram ini dibuat cukup besar, sehingga saya pun praktis untuk berwudhu. Dari segi kamar mandinya, Hotel Santika Mataram ingin tegas mengakomodasi kebutuhan wisata halal di Lombok.

Kenyamanan tidur bersama Thole.
Thole ingin turut menikmati swaseduh kopi di pagi hari. 
Kondisi toilet dan kamar mandi Santika yang dilengkapi dengan kran tempat wudhu.

Dua pagi saya jalani di Hotel Santika Mataram. Saya bangun dengan santai karena gravitasi kasur begitu kuat. Biasanya, sehabis bangun saya pindah duduk di sofa untuk menjalankan ritual pagi:  berswaseduh kopi. Saya memang penikmat kopi yang tak mau melewatkan momen mengopi pagi. Saya biasanya bawa sendiri perkakas kopi setiap kali pergi melancong. Kamar Hotel Santika Mataram memiliki alat pemanas air yang handal. Semerbak harum kopi hasil pour over V60 saya ini membangunkan Thole dan membuatnya mendekat ingin dimanja bapaknya. Sambil menyeruput kopi, saya lantas menikmati pemandangan pagi Mataram mulai menguning emas ditimpa baskara dari kamar Hotel Santika Mataram.

Staycation asyik dengan disuguhi kolam renang. Thole betah berenang di kolam khusus anak.
Dilengkapi pula tempat fitness untum mengakomodasi olah raga kebugaran para pelanggan
Hotel Santika Mataram sangat mendukung untuk staycation asyik di Pulau Lombok tanpa jauh-jauh dari pusat kota. Tak perlu hanya bermalas-malasan di kamar, Hotel Santika Mataram juga punya fasilitas kolam renang dan ruang fitness yang bisa memanjakan pengunjung. Pada hari ketiga di Santika, kami memilih staycation santai. Kolam renang Hotel Santika Mataram memiliki bagian khusus untuk anak-anak. Thole pun tak melewatkan untuk mandi berenang di pool Santika. Dia begitu betah bermain air dengan dikawani ibunya.


Kuliner Lombok di Kafe Bayan Tak Terlalu Pedas.

Jangan khawatir staycation di Hotel Santika Mataram tetap bisa menikmati beragam kuliner Lombok. Hotel Santika Mataram memiliki Kafe Bayan yang mengusung cita rasa khas Lombok dan Nusantara sebagaimana andalan hotel berjejaring Santika di mana saja. Untuk merasakan kuliner Lombok, saya menjajal Nasi Puyung yang berisi Plecing Kangkung dengan lauk dendeng pedas suwir. Dalam anggapan saya, Nasi Puyung ini akan begitu pedas sesuai dengan gagrak masakan Lombok. Namun, Hotel Santika Mataram pandai menyesuaikan sesuai beragamnya tamu dari berbagai daerah. Nasi Puyung Kafe Bayan pun disajikan lebih ramah pada lidah universal. Saya juga menjajal Plecing Ikan, yang dari segi rasa benar-benar mantap khas Lombok. Setiap masakan khas Lombok di Kafe Bayan sudah disesuaikan tingkat kepedasannya biar lebih diterima umum.

Chef Yasa, kepala koki Hotel Santika Mataram ini suka dengan kuliner Lombok dan Nusantara. Dialah yang memegang kendali soal kualitas makanan, kudapan dan minuman.
Keramahan awak restoran Kafe Bayan yang siap menjelaskan deskripsi dan asal daerah dari aneka masakan Nusantara.
Sesuai dengan filosofi Santika Group, Kafe Bayan juga mengedepankan masakan-masakan khas Nusantara dalam menu andalannya. Ada Nasi Bawuhan Bojonegoro, Nasi Langgi Solo, Nasi Goreng, Gado-gado, dan Gudangan. Selain itu, Kafe Bayan juga menyajikan menu-menu ala Western dan Oriental. Saya suka dengan pastry dan bakery-nya. Sebagai teman teh, saya nikmati croissant yang rasanya pantas disematkan istimewa. Saya bawa ke Sangkareang Lounge di sebelah Kafe Bayan untuk menikmati suasana lebih mendekat pada udara terbuka.

Kafe Bayan juga memiliki menu signatur ala carte. Setiap bulan selalu ada menu spesial lokal yang dikreasi terbaik oleh Chef Yasa, kepala koki Hotel Santika Mataram. Bulan Juli ini, Kafe Bayan punya menu andalan Tuna Sambal Tomat, ikan tuna yang dipanggang dengan perasaan air jeruk nipis dan garam disajikan dengan sambal tomat goreng. Saya menikmatinya dipadukan kudapan Serabi Banjir khas Lombok, yang disajikan dengan saus kinca yang melimpah dan taburan buah nangka segar. Saya juga menjajal menu signatur Hotel Santika Mataram yakni, Iga Goreng yang cita rasa bumbunya begitu meresap. Kafe Bayan juga menyediakan menu-menu spesial untuk anak. Thole menjajal Nasi Goreng Keju dan Salmon Panggang Saos Spesial yang begitu lahap disantapnya.


Plecing Kangkung, Tuna Sambal Tomat, kudapan Serabi Banjir dan signatur Iga Goreng. Semua favorit saya selama menginap di Santika Mataram. Rasanya tak pedas seperti masakan Lombok pada umumnya.

Menu spesial untuk anak-anak juga tersedia. Thole suka dengan Nasi Goreng Keju dan Salmon Panggang Saos Spesial.
Minuman signatur dari Kafe Bayan Santika Mataram.
Etalase produk oleh-oleh dari Lombok untuk mendukung UMKM lokal Pulau Lombok.
Sertifikat Halal Kafe Bayan. Santika Mataram pelopor masakan hotel
untuk mendukung Lombok sebagai destinasi halal dunia.

Yang wajib diapresiasi dari Kafe Bayan adalah sertifikasi halalnya. Demi mendukung Lombok sebagai destinasi halal terkemuka di dunia, Hotel Santika Mataram memastikan segala makanan dan minuman telah terjamin kehalalannya. Hotel Santika Mataram tidak memiliki bar yang menjual wine dan bir. Walaupun begitu, wisatawan yang membawa bir dan wine dari luar tetap diperbolehkan. Sejak tahun 2012, Hotel Santika Mataram menjadi pionir kehalalan dalam bisnis leisure di Lombok, terutama soal makanan dan minumannya.

Hotel Santika Mataram peduli terhadap khasanah lokal Lombok tak hanya pada menu masakannya, tetapi juga pada usaha kreatif masyarakat. Hotel Santika Mataram bekerja sama dengan beberapa UMKM Lombok untuk memasarkan produk oleh-oleh terbaik Lombok. Asyiknya, oleh-oleh Lombok ini tetap berharga murah. Dari etalase UMKM di Hotel Santika Mataram, saya membungkus cinderamata dan kudapan khas Lombok semacam dodol rumput laut, sambal cengeh, kopi rumput laut, jaje gabus, manisan lobe-lobe, stik bawang, dan tortila.


***

Sudah jadi ‘template’ travelling, saya selalu antusias mengeksplor ruang-ruang publik di sekitar saya menginap. Saya menyempatkan waktu untuk menikmati Mataram tanpa perlu jauh-jauh dari Hotel Santika Mataram. Dengan lokasinya yang strategis, saya sarankan kita perlu melakukan eksplorasi pesona dalam kota Mataram, mumpung berada di Santika Mataram.


Kebahagiaan Publik Taman Sangkareang

Terletak tepat di depan hotel Santika Mataram, Taman Sangkareng berada untuk menjadi arena publik kota Mataram. Bagi yang suka dengan denyut kebahagiaan masyarakat sebuah kota, taman publik bisa menjadi visualisasi yang pas. Taman Sangkareng ini dilengkapi oleh playground yang bisa menjadi ruang bermain anak. Terdapat juga jalan setapak untuk berolahraga masyarakat. Biasanya event kota dilaksanakan di taman ini sehingga menjadi pusat keramaian masyarakat. Saya luangkan malam hari untuk nongkrong di sini. Kemeriahan aktivitas warga bisa menjadi hiburan bersama lalu lalang kendaraan yang melintas Jalan Pejanggik, jalan utamanya Mataram.

Taman Sangkareang menjadi arena publik kegembiraan masyarakat Mataram.
Mencari suasana baru di luar hotel tak perlu jauh-jauh, Nikmati saja dari Taman Sangkareang.


Kemegahan Masjid Hubbul Wathan

Bangunan paling kontras dan tegas di Mataram adalah Masjid Hubbul Wathan Islamic Centre. Kemegahannya ingin menabalkan identitas Pulau Lombok sebagai Pulau Seribu Masjid. Masjid berkubah yang dibangun dengan 5 menara dengan menara paling tinggi 99 meter ini berarsitekturkan harmoni dari Lombok, Sumbawa, Arab, dan Melayu. Dari Santika Mataram lokasinya tak begitu jauh. Saya hanya berjalan kaki sejauh 600 meter. Di malam hari, dari Santika pun saya bisa memandang kubah dan menara masjid ini begitu indah disorot tata lampu warna-warni. Selain untuk beribadah, masjid ini bisa menjadi destinasi wisata religi. Sebagai tempat suci, wisatawan harus berpakaian sopan jika hendak berkunjung.


Masjid Hubbul Wathan tampak begitu megah. Perpaduan arsitektur Sasak, Sumbawa, dan Timur Tengah.
Kubah dan menara Masjid Hubbul Wathan dihiasi oleh tata lampu menakjubkan. Bisa dilihat dari Santika Mataram.


Jejak Toleransi di Taman Mayura

Pulau Lombok pernah terikat dalam Kerajaan Karangasem di Bali. Jejaknya bisa dilihat di Taman Mayura. Saya sempatkan untuk berkunjung ke taman pusaka yang berlokasi tak jauh dari pusat bisnis Cakranegara. Sebuah taman air persegi panjang nan cantik didirikan pada 1744 oleh Anak Agung Made Karangasem, Raja Karangasem, Bali. Saya melangkah masuk dengan memakai selendeng kuning ke Bale Kambang di tengah taman air. Sungguh, saya berjumpa dengan aura toleransi di sini. Terdapat patung bercirikan Muslim, Cina dan Jawa di area bangunan yang kental nuansa Bali dan Hindu. Suasana di sini begitu asri di bawah naungan pohon manggis, sebuah kesejukan di tengah terik Mataram.


Taman Mayura menjadi 'hidden gem' di jantung kota Mataram. 
Di Taman Mayura juga ada candi yang asri di bawah naungan Pohon Bayan berusia ratusan tahun. Disinyalir tertua di Lombok.


Promo Murah Hotel Santika Mataram via Santika.com

Pilihan menginap di Mataram dan Lombok, sekarang tak perlu bingung lagi. Memesan Hotel Santika Mataram pun begitu gampang di era internet cepat. Biasanya kita memesan kamar menggunakan platform aplikasi online travel agent (OTA). Begitu banyak aplikasi OTA yang bisa kita manfaatkan untuk memesan Hotel Santika Mataram. Namun, tahukah kalian? Bahwa memesan jaringan Hotel Santika via www.santika.com bisa lebih memberi manfaat yang tak akan didapatkan di aplikasi OTA. 

Pilihan Hotel Santika Mataram gampang ditemukan di situs www.santika.com
Via www.santika.com, kita bisa memilih kamar dengan mendapatkan tarif terbaik karena tanpa ada perantara.

Selain mendapatkan jaminan harga promo murah yang bisa diandalkan, memesan via
www.santika.com akan mendapatkan berbagai manfaat khusus seperti free WIFI, free breakfast, dan fasilitas lainnya. Selain itu, www.santika.com memberikan pilihan berbagai metode pembayaran dari kartu kredit, bank transfer, juga bayar langsung di hotel. Yang pasti, tidak akan ada biaya tersembunyi. Setiap harga sudah termasuk pajak. Tak hanya itu, memesan via www.santika.com kita akan diyakinkan ulasan pelanggan tentang pengalaman menginap dari tamu lain sebagai referensi menginap kita.

Saat ini jaringan hotel Santika baru memiliki 1 hotel di pulau Lombok, yakni Hotel Santika Mataram. Rencana ke depannya grup Santika akan melebarkan sayap dengan mendirikan hotel premium di kawasan Senggigi, yakni Santika Premiere. Para pelancong Lombok pun akan disuguhkan lebih banyak jaminan kenyamanan terbaik dari hotel-hotel jejaring Santika.

Untuk menikmati Pulau Lombok, kalau ingin mendekat ke destinasi wisata utamanya seperti: Senggigi, Mandalika, Tiga Gili, dan Sembalun, wisatawan punya pilihan akomodasi yang lengkap dan bervariasi. Mulai dari penginapan backpacker, hotel melati, berbintang hingga villa resort luxury standar internasional tersedia sesuai dengan budget dan preferensi kenyamanan. 

***

Tiga hari dua malam di Lombok memang rasanya sebentar. Namun, misi mengajak Thole untuk menikmati pesona Lombok bisa saya anggap sukses besar. Traveling keluarga di Lombok itu betul-betul mengasyikkan dan membahagiakan. Level perjalanan kami pun serasa naik tingkat. Jujur, Lombok masih punya beragam tempat yang ingin saya kunjungi di kesempatan berikutnya. Saya masih mendamba untuk hadir di Festival Bau Nyale, festival budaya yang merayakan legenda Putri Nyale di Mandalika dan menikmati pagi hari dengan sruputan kopi specialty Lombok di tanah asalnya di Sembalun.

Sampai jumpa lagi Lombok!


Alamat:
Hotel Santika Mataram - Lombok
Jln. Pejanggik No. 32 Mataram 83126
Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia
+62-370-6178888


You Might Also Like

7 komentar

  1. Panjang banget mas ahhahahaha.
    Ini bisa jadi 3 tulisan terpisah loh :-)
    Menantikan cerita yang lain kala di pulau terpadat :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha.. pesan sponsornya kudu ditulis panjang juga mas.. Haha..

      Tapi aku suwe tenan ra nulis panjang ki mas.. hahaha..

      Hapus
  2. Tahu-tahu Thole sudah gede aja, Mas Iqbal...
    Yah Lombok cantik nian. Aku juga gak bosan untuk berkali-kali datang ke sana :)

    BalasHapus
  3. Wah, liburannya super lengkap, Mas Iqbal dan keluarga. Mengunjungi wisata alam, budaya, sejarah, agama. Dapat fenomena yang menarik (ada kerbau lewat). Dilengkapi dengan menginap di Santika yang mewah banget. Penat hilang pasti tuh. Jadi nggak pengen balik. wkwk

    BalasHapus
  4. Mas... Momen kerbau lewat di pinggir pantai pas senja itu menarik sekali. Huhu. Aku ngebayangin jadi Thole pas udah gede, pasti bahagiaaa membaca kilas cerita ketika ia masih balita. Jejak ceritanya masih lengkap begini + dokumentasinya :))

    Ohya, Sade itu kan arah mau ke Kuta Mandalika ya mas? Agak jauhan ya kalau dari Mataram atau hotel Santika..
    Tapi emang strategis kalau udah di Mataram. Nyesel nggak masuk Ampenan.

    BalasHapus
  5. Belum pernah ke Lombok. Sendiri mau pun sama keluarga. Jadi pengen ke sana, tulisannya detail dan lengkap bisa jadi itinerary 😁

    BalasHapus
  6. Istimewa sekali mas perjalanan dengan keluarganya

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe