Kado Senja Laut Bekah

11.18

Senja di Laut Bekah.

Jika biasanya saya hanya menghadiahi bingkai sepotong senja kepada “Kamu” kesayangan saya, di hari istimewa “Kamu” ini saya mengajak “Kamu” langsung menikmati senja, langsung menunaikan ibadah senja. Ke Laut Bekah, sore itu, saya membawa “Kamu” merayakan hari jadi hidupmu di dunia untuk yang keduapuluhsembilan kalinya.

Saya tahu “Kamu” adalah pemakna senja garis keras. Makanya, saya pikir akan sangat membahagiakan sekali jika “Kamu” dihadiahi senja. Saya pun menyuguhkan “Kamu” sebuah senja di sebuah tempat yang langsung berbatas samudera, di atas ketinggian tebing, di ujung selatan Jawa, di pesisir istimewa Yogyakarta, di pelosok Gunungkidul, di Kecamatan Purwosari, di Desa Giripurwo, di Dusun Temon, di tempat biasa para maniak pemancing mengadu peruntungan untuk memancing ikan dan lobster pada tebing karang yang tinggi, terjal nan menantang.   

Jujur, saya tidak bisa memberi “Kamu” sebuah kado layaknya yang rekan-rekan “Kamu” berikan kepada kekasihnya, atau yang kawan-kawan saya berikan kepada sang tercintanya. Semisal, rumah yang mewah atau mobil yang meriah atau cincin emas permata atau paket umroh ke Mekkah-Madinah atau paket perjalanan ke Eropa atau bahkan sebait puisi romantis bercita rasa gombalan yang mengikat mesra. Saya tak sanggup untuk menyediakannya.

Maklum, saya hanya seonggok makhluk “Bukan Siapa-siapa”, seorang mahasiswa tingkat semester kadaluarsa yang hidup dari belas kasihan subsidi negara yang senantiasa mendapat keberuntungan dan kemurahan hati Tuhan dan para makhluk-Nya. Jelas saya pun merasa menjadi orang paling beruntung di dunia ketika hampir tiga tahun ini dianugerahi cinta oleh sesosok “Kamu” yang digdaya dan sebentar lagi studi di negeri OZ pada salah satu universitas terbaik di dunia.

Iya, mohon maklum, saya sekedar sanggup memberi “Kamu” kado senja Laut Bekah.

Untunglah senja tak bermuram durjana. Untunglah senja menampakkan bulat memerahnya secara sempurna di ufuk barat yang membuat “Kamu” tampaknya bahagia  - setidaknya dari tingkah “Kamu” yang syahdu menikmati senja. Sehingga, saya tidak perlu berdiri di pinggir tebing berketinggian 80 meter yang didasarnya bergulung ombak-ombak Samudera Selatan yang kejam menghajar kaki tebing, lalu saya terjun bebas menghujam ke bawah.



Tebing Laut Bekah. Spot favorit para pemancing.
Semuanya serba tebing yang tinggi. 
Tangga 'maut' untuk turun pemancing lobster. 

“Maksudnya Kamu mau bunuh diri kalau sore ini gagal membuatku bahagia?” Ungkap “Kamu” sambil menatap tajam saya.

Oh, tidak.. Jelas tidak.. Tidak mungkin.. Saya paling mengecam tindakan bunuh diri. Saya tak ingin mati dan meninggalkan “Kamu” sendiri. Saya hanya ingin terjun untuk lepas landas demi terbang bebas ke angkasa. Andaikan sore itu tak ada senja yang indah, saya rela berubah menjadi burung Walet. Lalu, saya mengajak sekawanan burung Walet lain yang sore itu beterbangan meriuhkan angkasa Laut Bekah untuk menuliskan untaian kata di kanvas senja:

“SELAMAT ULANG TAHUN “KAMU”. SEMOGA TETAP DISAYANG ALLAH DAN TETAP SAYANG KEPADAKU”    

Untunglah baskara merah yang indah membuat saya ‘selamat’, tak perlu bertindak gila. Saya pun bisa nyaman duduk manis di samping “Kamu”. Pada haribaan senja yang merona, tepat di ujung tebing, saya dan “Kamu” pun bersama terduduk syahdu berdampingan menatap cakrawala barat yang berbatas samudera raya, sambil diterpa ramah semilir angin yang menentramkan. Tetiba, jemari “Kamu”  mengajak jemari saya untuk saling bertautan dan bibir “Kamu” dengan lirih mengajak telinga saya untuk mendengar perkataan:

“Terima kasih sayang untuk senjanya yang indah. Semoga tahun depan, tepat di hari istimewa ini, kita bisa menikmati senja sebagai sepasang suami istri”

Senja pun melengos pergi, bebarengan kami meninggalkan Laut Bekah yang sunyi. 


Catatan

- Senja di Laut Bekah disaksikan secara syahdu pada tanggal 25 Oktober 2014 lalu, bersamaan hari milad "Kamu"


Ladang di sekitar Laut Bekah
Bebatuan karst yang menonjol. Mewujud panorama estetik.
Pondok sebagai tempat para pemancing beristirahat. 
Matahari yang akan ditelan lautan tapi tertutup kabut muram.
Burung Walet menghiasi angkasa senja Laut Bekah.
Nelayan pulang kepada haribaan senja.

You Might Also Like

4 komentar

  1. senjanya bagus bangett. Ciptaan Tuhan emang keerenn

    BalasHapus
  2. bung iqbal romantis kaleee.... *sembah sujud

    BalasHapus
  3. Pas ada perahu nelayan yang lewat ya..
    Kemaren saia pas ke sana g ada...

    Salam dari menggapaiangkasa.com

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe