
Ibu Yanti dengan cekatan menggerus
bulir-bulir gabah untuk dimasukkan ke dalam karung. Cuaca mendung membuat hari
ini dia lebih cepat mengemasi gabah yang dia gelar. Matahari malu-malu siang
itu. Karung-karung gabah ini kemudian akan dia masukkan di Uma’ Lengge.
Disimpannya sembari berharap matahari terik esok hari. Uma’ Lengge menjadi lumbung
padi yang mentradisi dari suku Mbojo, masyarakat asli Bima, Nusa Tenggara Barat.
Sudah tidak banyak lagi bisa
ditemukan masyarakat yang mempertahankan eksistensi Uma’ Lengge. Di daerah
Bima, tinggal hanya tiga daerah yang tetap menjaga tradisi Uma’ Lengge. Yakni
di Wawo, Sambori serta Donggi. Sebagian besar masyarakat Bima telah beralih
kepada rumah ‘generik’, yang berbentuk persegi, beratap genteng. Maraknya
pembangunan telah mencerabut khasanah tradisi Uma Lengge yang telah ada sejak
enam abad silam.
Bersama sahabat baru asli
Bima: Dian Pratiwi, saya, @linggabinangkit dan @megahan25 bertakzim ke Uma
Lengge di Desa Maria, Wawo, Kab. Bima. Mencoba mengenal kearifan Uma Lengge
yang tetap bertahan tak lekang oleh zaman.
Konstruksi Sarat Fungsi
Secara umum, Uma Lengge
berwujud sebagai rumah panggung. Konstruksinya menggunakan bahan kayu dengan
atap dari ilalang yang menutupi tiga perempat bagian rumah. Arsitekturnya
berbentuk limas dengan ditopang empat kaki kayu utama. Ukuran Uma Lengge
sekitar 4 x 4 meter, dengan tinggi hingga puncaknya mencapai 7 meter.
Susunan ruang dalam Uma
Lengge terdiri dari empat tingkat. Lantai dasar atau kolong berfungsi
sebagai tempat menyimpan ternak. Lantai pertama digunakan untuk menerima tamu dan kegiatan upacara
adat. Lantai kedua berfungsi sebagai tempat tidur sekaligus dapur. Sementara
itu, lantai ketiga atau atap digunakan untuk menyimpan bahan makanan, seperti
padi.










