Semerbak harum meruap
kuat sesaat kopi diseduh Firmansyah “Pepeng”, yang lantas disesap dengan hirupan
nafas kenikmatan oleh para pengunjung stan Klinik Kopi. Wiwid tampak paling
mengkhidmati cara Pepeng menyeduh ‘pour over’ dengan Koka, piranti seduh
signatur Klinik Kopi. Begitu ia menerima segelas kopi, disruputnya seksama dengan
mata memejam seakan ingin meluruhkan seluruh jiwa kepada kopi dambaannya.
Lombok menjadi primadona
pariwisata Indonesia saat ini. Beraneka ragam wisata tersaji secara paripurna
di sini. Yang mendamba pantai tropis terbaik, petualangan menakjubkan gunung vulkanik,
kehidupan budaya yang lestari, kuliner khas bercita rasa specialty, dan
destinasi wisata halal terkemuka, Lombok bisa memenuhi kebutuhan ‘leisure’ paling
unggul di Indonesia. Makanya, kali ini saya memilih Lombok sebagai prioritas
tujuan travelling saya sekeluarga. Saya hendak mengajak Thole untuk memesrai salah
satu pulau teristimewa dan ‘terpedas’ di untaian kepulauan sepanjang garis
khatulistiwa – seperti nama belakang Thole.
Alkisah, di tlatah Bantul, tanah Mataram yang menempati pesisir selatan dalam garis makrokosmos Jawa: Merapi – Laut Selatan, tersebarlah para ksatria hidup penuh kemuliaan dari kebaikan-kebaikannya untuk peradaban panganan. Mereka hidup dalam alam kedamaian dan kemerdekaan desa, tetapi tak lalai memberi warna merona bagi kejayaan kuliner Nusantara. Para ksatria ini tak akan tampil jumawa dengan signaturnya, tapi para penggandrung kesejatian rasalah yang bersaksi pada kemahirannya. Saya adalah salah satunya kawula yang senantiasa hormat setinggi-tingginya pada dedikasi paripurna para ksatria ini yang luar biasa.
Akselerasi
adalah tema Jalan jalur Lintas Selatan (JJLS) Pulau Jawa diwujudkan menghampari
pesisir daksina Jawa. Selama ini, pembangunan Jawa terasa terlalu berat sebelah
di sisi utara. Daerah pesisir selatan lebih dikenal wilayah lapang nan jarang,
yang ditumbuhi lahan pertanian, yang diisi juga calon pekerja untuk kota-kota
besar di pesisir utara Jawa. Kehadiran JJLS dimaksudkan untuk mencipta pusat
pertumbuhan baru, lebih menyeimbangkan Jawa, walau rasanya tak mungkin jua bisa
menyamai wilayah pantai utara Jawa yang telah melaju gempita.
Tahun 2018 ini
Kebumen melakukan lompatan besar sejarah. Ada perubahan Hari Jadi Kebumen, dari
tanggal 1 Januari 1936 menjadi 21 Agustus 1629. Bergantinya hari jadi dan bertambah drastisnya usia Kebumen adalah
sebuah asa bagi daerah di pesisir selatan Jawa Tengah ini agar tampak lebih
berwibawa. Ada pula semangat luhur untuk lebih menghargai patriotisme para leluhur alih-alih terikat beban sejarah menjadi kabupaten penggabungan di bawah kendali
kolonialisme Belanda.
Masyarakat Indonesia pasti paham kalau gamelan adalah mahakarya khasanah budaya yang luhur dan sumurung. Namun, barangkali tak banyak yang tahu kalau gamelan telah berdiaspora luas ke penjuru dunia. Perhelatan International Gamelan Festival 2018 menjadi tengara kalau gamelan sudah menjadi tradisi Nusantara yang menginternasional.
Momen pagi itu
selalu mengikat hasrat perjalanan. Banyak orang rela melintas jarak hanya untuk
menyaksi mula mentari menyinari Bumi. Ada satu tempat di Kebumen yang sudah
saya damba sejak lama untuk bermentari pagi, yakni Bukit Indrakila. Sebagai
penikmat geowisata, saya tentu antusias menjelajahi Indrakila yang masuk dalam
(rencana) Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong. Bukit tertinggi di
Kebumen bagian timur ini sangat menarik atensi saya tentang pemandangan sumurungnya
dan misteri hikayat yang melingkupinya.
Rimbun pekarangan
bambu yang biasanya dikungkung sunyi, pagi ini ditingkahi kemeriahan ratusan
warga. Geliat interaksi kegembiraan menyebar rancak di sekujur lahan teduh di tepian
Kali Kemit yang bersejarah. Mereka sedang berpesta rakyat dalam perhelatan
Pasar Pereng Kali Kemit Desa Grenggeng. Dengan guyub rukun, mereka sedang
merajut anasir-anasir sejarah, budaya, sumber daya, ekonomi dan kebahagiaannya
dalam bingkai lokal desanya.
Sebelumnya maafkan
saya pembaca yang budiman. Tulisan ini betul berjudul “Seribu Cerita” dan
sungguh di Candi Sewu saya menggaet seribu cerita dalam bingkai tamasya ceria.
Hanya saja, di sini saya tak akan bercerita semuanya. Saya hanya menceritakan 3
intisari saja tentang momen yang paling berkesan bagi
saya, Thole dan ibunya Thole. Pertama, kami bahagia pada sore itu. Kedua, Thole
puas berlari dan berdebu di antara candi-candi dan taman sekelilingnya. Ketiga,
Candi Sewu ternyata tak berjumlah seribu.
Jogja sering
disebut sebagai kota besar paling nyaman dihuni di Indonesia. Perdaftar saja
keunggulannya: kualitas nomor wahid fasilitas pendidikan, kelengkapan sarana kesehatan,
keterjangkauan biaya hidup, keramahan masyarakat, keterbukaan pemikiran,
kekhasan pusat budaya Jawa dan multisenibudaya Nusantara, kelezatan boga,
keaktifan ekonomi kreatif hingga keragaman tempat wisata menjadikan Jogja sahih
disebut kota istimewa. Jogja selalu jadi teladan di Indonesia, perihal sebuah
kota yang diimajinasikan untuk ditinggali sebagai manusia seutuhnya.
Di Indonesia, patron kota
yang tumbuh dari keajaiban perkebunan adalah Medan. Kota ini lahir dari kisah
tembakau Deli yang digandrungi pasar Eropa sehingga makbul mendatangkan investor
dan tentu juga pekerja profesional, kuli, budak beserta para penggembira. Kini,
tembakau Deli mungkin tak seharum seperti dulu. Namun, Medan tetap wangi dengan
kopi, karet dan sawit yang mana jutaan tonnya dikirimkan ke penjuru dunia lewat
pelabuhannya dan puluhan triliunan uangnya diputar di sekujur wilayahnya. Saya
merasakan aroma kota Medan ini tetap menguar kuat sebagai het land dollar
alias The Land of Money, sebutan masyhur Medan di masa gemilangnya, di akhir
abad 19 dan awal abad 20.











