Renjana #2: Kampung Nekto

13.17

Pak Tua Simon yang bersahaja. Ketua adat Kampung Nekto.

“Perlihatkanlah aku tentang kampung eksotis!“ mendadak dia memintaku dalam sebuah pagi yang sunyi. Padahal, aku masih malas-malasan karena hari ini adalah akhir pekan.

Maka, aku tunjukkan kampung halaman Pak Tua Simon.

Sebelum aku berkisah dan memajang gambar kampung halaman Pak Simon, aku akan menduga kamu sebagai orang yang terbiasa mencari tahu segala tempat-tempat yang sepi, indah, menakjubkan, cantik, eksotis, erotis atau apalah istilahnya itu dengan menggunakan mesin pencari google. Atau kamu mencari tahunya dari Lonely Planet yang menurutku penuh informasi absurd. Aku rasa kampung Pak Simon tak terekam di google sebelum aku tuliskan pada kisah ini.

Perkenalanku pada Pak Simon dan kampungnya adalah atas kemurahan hati Mama Ela Bere. Dia adalah ibu dari kawan saya, Richie Anyan, yang bersedia menampungku dan kawanku @linggabinangkit saat berjalan ke Atambua, Timor, Nusa Tenggara Timur. Dengan didampingi Yanto, sahabat Richie, kami menuju ke Kampung Nekto di Kabupaten Malaka yang merupakan kampung leluhur Richie.

Butuh dua setengah jam dari Atambua menuju kampung yang terselinap sunyi oleh perbukitan di batas Indonesia dan Timor Leste. Hanya motor dengan kondisi prima yang bisa menjangkaunya. Pasti kamu bisa menduga bagaimana kondisi jalannya karena sebetulnya jarak Atambua – Nekto tidak sampai 40 km.

Kampung Nekto bukanlah kampung wisata. Ia adalah kampung adat yang teguh menjaga tradisi Suku Nektos. Aku rasa Nektos merupakan subsuku dari suku Tetum yang merupakan suku besar asli Pulau Timor. Kamu tahu tow, karena tidak terbalut oleh wisata, aku pun disambut tanpa ada embel-embel tiket masuk apalagi ‘pemberian’ khas wisata. Melihat seisi kampung yang penuh dengan rumah tradisional yang terjaga orisinalitasnya, aku sungguh terkesan, seperti aku terlempar pada kehidupan yang etnik.

Tahukah kamu? Saat berjumpa dengan Pak Tua Simon, aku teringat dengan Gandalf. Pasti kamu tahu siapa Gandalf karena kamu adalah anak muda gaul yang fanatik menggemari film The Hobbit dan The Lord of The Rings. Jenggotnya panjang, mengesankan Pak Tua Simon adalah sosok yang berwibawa. Memang begitu adanya. Pak Simon adalah Kepala Suku Kampung Nekto. Keramahan dan kebaikannya sangat luar biasa. Dia mengajakku melihat seisi kampung. Dia membuka diri selebar-lebarnya untuk menunjukkan kepadaku tempat dan informasi tentang Kampung Nekto.

Saat senja mulai menjelang, Pak Tua Simon mengajakku ke pekuburan moyang Suku Nektos. Warga dan bocah kampung juga diajaknya. Kami beramai-ramai ke sana. Ternyata aku diajak ke sebuah padang rumput yang cukup luas terhampar di bawah bukit granit yang gagah. Lantas, mana pekuburannya?

“Di sinilah moyang kami dikuburkan.” Pak Tua sambil memperlihatkan sebuah tugu kayu berukiran hewan-hewan sebagai tengara bahwa ini adalah kuburan. Namun, jujur aku tak temukan sepercikpun nuansa kengerian di sini.

Malah, baskara yang tenggelam menawarkan keindahan sejati pada sore itu. Sinar kuningnya menghangatkan persaudaraan kami. Aku dan warga kampung Nekto makin akrab dan dekat dalam balutan romansa senja yang hingga saat inipun selalu terngiang-ngiang momen itu. Ah, aku jadi rindu mereka.

Oh iya, tadi kamu minta yang eksotis tow? Aku sudah memperlihatkannya di Kampung Nekto. Tapi, aku minta kamu mulai saat ini untuk cobalah berhenti  menyebut suatu kampung budaya yang menurut kamu asing, beda, lain, indah, dengan sebutan eksotis.

“Lho kenapa??” dia seperti merasa aneh.

Aku ingin kamu tak menjaga jarak dengan budaya dan tempat yang kamu kunjungi. Terlebih pada yang kamu baru tahu. Dimanapun itu! Aku risih dengan kata eksotis.  Dulu memang aku seperti kamu, sering melabeli apapun yang baru, beda, asing, lain dengan eksotis.

Tahukah kamu, kalau empat abad lalu, orang Eropa melihat kita, orang Jawa, sebagai hal yang eksotis. Eksotisme itu lalu dirawat untuk mengukuhkan superioritas mereka. Superioritas yang bersaudara dengan kolonialisme, penjajahan. Aku tidak ingin kita seperti itu. Sesama orang Indonesia harus menghargai semua saudara sebangsanya bahwa kita semua setara, begitu bukan? Atau kamu memang suka ‘menjajah’ saudara sebangsamu sendiri?

Suasana sore kampung Nekto.
Hiasan di atap rumah Pak Tua Simon.
Rumah panggung milik Ibu Tua, adik Pak Simon.
Padang rumput di Kampung Nekto
Kuburan para moyang Kampung Nekto.
Pak tua Simon dengan keluarga dari Kampung Nekto.


You Might Also Like

1 komentar

  1. padang rumput yang seluas itu menambah keindahan kampun nekto, selain tempatnya yang masih asri dan udaranya yang sejuk, pemandangannya pun tidak kalah bagus..

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe