Wonderful Indonesia : Impian Raja Ampat

10.56

Raja Ampat, The Last Paradise on Earth
www.indonesia.travel

“Orang boleh bertualang sejauh mungkin, tapi selama ia tak ke Raja Ampat, ia akan rugi di dalam sepanjang hidupnya.” 1

Jujur saya belum pernah ke Raja Ampat. Kalau berandai-andai ke Raja Ampat, saya sudah mengendapkan dalam impian sejak tujuh tahun lalu. Selama itulah saya selalu mendamba semoga suatu saat bisa hadir menikmati lekuk-lekuk pesona Raja Ampat. Tentu saja, karena saya tak ingin merugi dalam hidup ini.

Raja Ampat adalah surga bawah laut terindah di dunia! Raja Ampat ibarat Mekkahnya para penyelam! Raja Ampat adalah perpustakaan hidup dengan koleksi terumbu karang dan biota laut paling lengkap di dunia! Raja Ampat adalah The Last Paradise on Earth!

Masih banyak lagi sebutan-sebutan lain yang mengagungkan keindahan Raja Ampat. Saya rasa semuanya bombastis. Tapi, tetap saja kesimpulannya semua dunia telah mengakui bahwa Raja Ampat adalah salah satu tempat terindah di muka bumi.

Laporan The Nature Conservancy dan Conservation International menyebutkan bahwa ada sekitar 75% spesies laut dunia tinggal di kawasan kepulauan yang terletak di seberang ‘kepala burung’ Pulau Papua. Saya bayangkan betapa kayanya Raja Ampat yang ‘hanya’ seluas 4,6 juta hektar ditinggali oleh tiga perempat makhluk-makhluk bawah laut dunia. Tidak ada satupun tempat di bumi ini yang selengkap koleksi Raja Ampat. Raja Ampat semacam ibukota ikan dan terumbu karang dunia.

“Saya tos dengan manta lho. Inget bukan manta..(n) yah!” ungkap Fina @ladibaa. Hahaha.. Kawan saya asal Surabaya ini sangat beruntung sekali sudah pernah ke Raja Ampat. Saya selalu dipamerinya cerita menakjubkan tentang Raja Ampat.

Saya ingin paling tidak sekali seumur hidup mengalami seperti @ladibaa yang bisa melihat warna-warni terumbu karang dan biota laut Raja Ampat. Pasti banyak ikan-ikan yang berbentuk ‘lucu’, aneh dan namanya begitu asing bersuka ria menari-nari di dalam heningnya lautan. Andai beruntung, ingin rasanya bisa bertemu dengan  kuda laut katai, wobbegong dan ikan endemik Raja Ampat: Eviota Raja. Ingin juga rasanya dikelilingi oleh ribuan ikan yang bergerombol semacam tuna, giant trevallies, dan snappers, lalu coba menerobosnya.

Andaikan di Raja Ampat, saya juga tak ingin ketinggalan momen istimewa bisa berjumpa dengan ikan dugong alias ikan duyung yang begitu anggun di dalam lautan. Juga ingin bertemu dengan penyu yang begitu tenang berenang di antara karang. Satu lagi, rasanya saya juga perlu bertatap muka dengan ikan hiu yang diam-diam memesona sekalipun hanya sekali saja karena bagaimanapun hiu tetaplah garang.

Pesona bawah laut Pulau Misool
www,indonesia.travel
Surga bawah laut Raja Ampat.
www.indonesia.travel
Warna-warni bawah laut Raja Ampat.
www.indonesia.travel

Sebagai surga bawah laut, Raja Ampat menyediakan berlimpah titik-titik penyelaman. Ragamnya juga sangat variatif. Misalnya di Tanjung Kri yang dieksplorasi oleh ahli biologi laut dunia Dr Gerald Allen. Tempat ini menawarkan aneka terumbu karang bersama ribuan jenis ikan. Ada juga Mike’s Point di Selat Dampier yang menyuguhkan bangkai kapal Perang Dunia Jepang sebagai tengara bawah laut yang menakjubkan. Saya rasa titik-titik selam lainnya di Raja Ampat seperti Teluk Aljui, Famand Painemo, Misool, Wayag Kawe, Batanta, dan lainnya juga sama menakjubkan.

Jujur, saya belum bisa diving. Tapi, apakah ke Raja Ampat harus bisa menunggu diving dulu? Apakah Raja Ampat hanya bisa dinikmati dengan diving saja? Sebagai surga bawah laut, saya rasa Raja Ampat tetap bisa dinikmati dengan snorkeling untuk melihat panorama bawah laut yang menakjubkan. Tergambar lanskap perairan sekitar pulau-pulau begitu menawan dengan khasanah terumbu karang perairan dangkal.

Cerita keindahan Raja Ampat tentu tak hanya tentang kehidupan bawah lautnya saja. Lanskap di atas laut dan daratan Raja Ampat juga katanya adalah sebuah surga dunia. Sebuah keajaiban alam yang seimbang di Raja Ampat.

Pernah lihat Wayag? Saya tak ingin lagi hanya lihat fotonya yang sangat jelita. Namun saya ingin langsung berada di antara untaian puluhan pulau karst kecil lancip yang seakan muncul dari lautan tenang berhijau toska dengan guratan putih pasir. Wayag merupakan ikon lanskap Raja Ampat yang membuat orang dari seluruh dunia bermimpi bisa datang ke Raja Ampat.

Jika Wayag tak bisa dijangkau karena letaknya sangat jauh dan mahal, saya rasa kita patut bersyukur ada Painemo. Painemo dikenal sebagai Little Wayag yang menyuguhkan pesona tak kalah indahnya. Ah, lanskap Raja Ampat juga manis jikalau berkunjung ke setiap pantai di pulau-pulaunya. Betapa tidak, saya akan berjumpa dengan hamparan pasir putih dengan perairan tenang yang dilingkupi oleh nyiur semampai. Belum lagi menyusuri hutan mangrove tropis di kawasan Misool akan melemparkan saya  pada labirin-labirin kesunyian yang tak ada habisnya.

Satu lagi tentang keajaiban alam Raja Ampat yang tak bisa saya tinggalkan, yakni burung Cendrawasih. Burung cantik yang terkenal dengan sebutan “Bird of Paradise” ini bisa ditemui langsung di habitat liarnya di daerah Yenwaupnor, Sawinggrai, Yenbeser and Pulau Gam. Tatkala berjumpa dengan si burung surga ini, saya akan mengendap-endap hingga mampu melihatnya dari dekat. Selain cendrawasih, terdapat burung-burung endemik yang langka seperti Kakatua Jambul Kuning, julang Irian, Nuri, Beo, Mambruk Viktoria, Kasuari, dan Maleo.

Raja Ampat tampaknya memang dihadiahkan Tuhan kepada negeri Nusantara untuk menyempurnakan pesonanya di khatulistiwa. Saya pikir, Tuhan pasti menciptakan alam Raja Ampat dengan tersenyum. Sebegitu indahnya Raja Ampat, membuat saya pun tak bisa untuk tidak bisa bermimpi ke kepulauan surgawi ini. 


Dermaga di Pulau Misool.
www.indonesia.travel
Keindahan Painemo alias Little Wayag.
www.gorajaampat.com
Burung Cenderawasih. Bird of Paradise.
www.indonesia.travel



Menjelajahi Kebudayaan Lokal

Bagi saya, menikmati lanskap Raja Ampat tidaklah istimewa jika tanpa menjelajahi kebudayaannya. Kebudayaan Raja Ampat tentu menyuguhkan beragam hasil kebudayaan yang sangat indah karena  dibentuk dari lingkungan yang sangat indah. Jujur saya adalah tipikal pejalan yang sangat antusias untuk menyigi pesona dan makna budaya setempat.

Sejarah berabad-abad silam mencatat bahwa penamaan Raja Ampat didasari dari julukan dari Sultan Tidore kepada empat raja lokal di pulau-pulau terbesar, yakni Waigeo, Misool, Salawati dan Batanta. Dalam perjuangan Sultan Nuku melawan kolonialisme Belanda di bumi Maluku dikisahkan juga masyarakat Raja Ampat menjadi pendukung setia Sultan Tidore termasyhur ini. Oleh karena itu, kebudayaan Raja Ampat dipengaruhi juga oleh kebudayaan Islam dari Maluku Utara yang tentu makin melengkapi kebudayaan asli Raja Ampat dan Papua Daratan.

Kebudayaan lokal Raja Ampat sangat terkenal dengan keberagamannya. Saya pikir hal ini terjadi karena di Raja Ampat terdapat banyak suku yang tersebar di pulau-pulau dan lingkungan menginsipirasi terciptanya kebudayaan. Setiap suku memiliki seni tari, seni musik, tata cara adat, seni lukis, seni kerajinan tangan hingga ritual hidup sehari-hari yang berbeda.  

Andaikan berjumpa dengan seni tari dan musik khas Raja Ampat, saya akan menemui tarian dan musik yang riang dan bersemangat. Saya pikir tarian dan musik ini menjadi perwujudan masyarakat Raja Ampat yang begitu bahagia dengan lingkungan indahnya yang tiada tara. Saya ingin rasanya membenamkan diri pada keindahan tari dan musik khas Raja Ampat. Saya akan menari bersama ataupun turut memainkan alat musik bersama masyarakat Raja Ampat.

Kesenian khas Raja Ampat diantaranya adalah Tarian Wor, Mapia, Mambefor, Main Moun, Tarian Batpo, Tarian Yako dan kesenian Seruling Tambur. Tarian ini sering ditampilkan saat upacara adat ataupun penyambutan  tamu. Tari-tarian ini akan diiringi oleh Tifa, gong (mambokon), tambur (bakulu), gitar, seruling dan alat musik tiup dari kerang laut. Selengkapnya tentang seni budaya di Raja Ampat akan dipentaskan dalam Festival Raja Ampat. Biasanya rutin diselenggarakan tiap tahun pada bulan Agustus - Oktober.

Di hari biasa, menikmati kebudayaan khas Raja Ampat bisa dilakukan di desa-desanya. Saya berharap bisa berkunjung langsung ke desa untuk menemui realitas budaya yang masih asli. Untuk suguhan wisatawan yang paling dikenal adalah Desa Arborek. Desa ini menyuguhkan otentisitas noken atau  kerajinan khas Papua yang dibuat secara tradisional. Desa Arborek terkenal juga dengan keindahan bawah lautnya dan konservasi lingkungan. Selain itu, terdapat juga Desa Sauwandarek yang terkenal dengan budaya kerajinan tas dan topi dari pandan laut. Ada juga desa wisata lain seperti Desa Sawinggrai.

Para wanita Desa Arborek sedang membuat kerajinan. Seni khas Raja Ampat.
www.indonesia.travel
Seni lukis, tari dan musik suku-suku Raja Ampat
www.gorajaampat.com
Goa Tomolol, lokasi kebudayaan prasejarah Raja Ampat.
www.gorajaampat.com

Saya rasa berbicara tentang budaya, berarti harus berbicara juga tentang makanan dan minuman asli Raja Ampat. Sebagai muslim, tentu saya tetap berpedoman pada prinsip halal dan haram. Di Raja Ampat  yang notabene sebagian penduduknya muslim, jelas begitu banyak menyediakan kuliner khas yang halal. Barapen Ayam adalah kuliner asli Raja Ampat dengan daya tarik yang menggiurkan. Dimasak dengan batu dibakar yang kemudian ditaruh di dalam drum bersama bumbu spesial.

Kuliner Raja Ampat lainnya adalah Papeda yang terbuat dari sagu. Biasanya disajikan bersama kuah kuning yang berlauk ikan-ikan segar dari perairan Raja Ampat. Ada  juga sate ulat sagu yang unik dan memiliki nutrisi tinggi. Kuliner lainnya adalah Mumu yang terbuat dari daging babi. Kalau Mumu ini saya cukup tahu saja. Yang juga tak boleh terlewat adalah minuman tradisional Raja Ampat yakni Saguer yang terbuat dari air kelapa muda difermentasikan. Memang memabukkan, tapi saya akan mencobanya sedikit, mencicipinya dengan senang hati sebagai bagian dari diplomasi tradisi.

Oh ya, satu lagi tentang  kebudayaan Raja Ampat, saya rasa perlu berkunjung ke Misool. Saya perlu menapak tilas lukisan cap tangan di dinding karang karst yang dikelilingi oleh perairan tenang. Tengara ini menjadi bukti bahwa sekitar 50.000 lalu, pada masa prasejarah, Raja Ampat telah didiami oleh manusia. Dalam garis sejarah, hal ini menjadi petunjuk jalur penyebaran manusia dari kawasan barat Nusantara ke daerah Papua dan Melanesia.

Salah satu kuliner Raja Ampat, terbuat dari sagu.
www.gorajaampat.com


Belajar Kearifan Lokal                                          

Dianugerahi alam yang menakjubkan, saya yakin keindahan Raja Ampat bisa tetap terjaga lestari sampai kini karena kearifan masyarakat lokal. Masyarakat Raja Ampat tahu bahwa alam adalah ruang kehidupan mereka. Sebagian besar bermata  pencaharian nelayan dan sebagian lainnya berkebun atau mencari makan di hutan. Mereka tak bisa hidup tanpa adanya alam yang terjaga lestari.

Masyarakat Raja Ampat pun memiliki perangkat tradisi yang sangat bijak bestari untuk melestarikan alam. Sasi dan Rajaha namanya. Sasi Rajaha merupakan sebuah kearifan lokal berupa pelarangan bersama terhadap suatu kawasan yang mencakup kepentingan umum.

Sasi ini ditujukan untuk kawasan laut tertentu dimana tidak boleh dilakukan penangkapan ikan selama waktu tertentu, bahkan ada yang selama sepanjang masa. Hasil laut dan biota laut di Raja Ampat pun terlindungi dengan baik. Saat ini Sasi sudah diberlakukan di hampir seluruh wilayah Raja Ampat. Rajaha mengikuti pelaksanaan Sasi, hanya saja lebih dilaksanakan di darat, di hutan-hutan.

Sudah sedari zaman dulu Sasi Rajaha dilaksanakan di Raja Ampat, sejak zaman raja-raja yang berkuasa di Raja Ampat. Kini, sistem Sasi Rajaha terus dipertahankan dan dilestarikan melalui pemerintah daerah. Pelaksanaannya harus dilakukan dengan suasana yang kental tradisi dan agama. Dipadukan  antara upacara adat dan juga berdoa di masjid maupun gereja.

Terkait penangkapan ikan, masyarakat Raja Ampat juga memiliki cara khas yang berlandaskan kearifan lokal. Masyarakat terbiasa menangkap ikan dengan teknik memancing Molo, yakni menyelam untuk menangkap ikan melalui senapan kayu dengan kawat sebagai pelurunya. Ada juga Bacigi, yakni memancing di laut beramai-ramai dari anak-anak sampai tetua dengan kail tanpa menggunakan umpan.  



Hidup selaras dengan alam di Raja Ampat.
www.gorajaampat.com
Wayag, salah satu lokasi yang terkena sasi dari masyarakat Raja Ampat.
www.gorajaampat.com


Bocah-bocah Raja Ampat.
Bocah-bocah Raja Ampat sedari kecil dilatih untuk menjaga kelestarian laut.
www.indonesia.travel

Tak hanya tentang menjaga alam saja, kearifan lokal untuk menjaga hubungan antar manusia juga perlu saya pelajari di Raja Ampat. Ini tentang toleransi antarumat beragama. Di Raja Ampat, masyarakat Muslim dan Kristen bisa hidup berdampingan. Bahkan seringkali di dalam satu keluarga atau marga terdapat anggota yang memeluk salah satu dari dua agama tersebut.

Bukankah ini sebuah persaudaraan sejati yang melampaui sekat-sekat beragama? Di saat banyak orang masih berkoar-koar tentang toleransi, di Raja Ampat sudah terjadi yang harmonis berabad-abad. Saya rasa salah satu tempat terbaik belajar toleransi adalah di Raja Ampat. Luar biasa Raja Ampat!

Kearifan lain yang membuat saya ingin ke Raja Ampat adalah keramahannya dan keterbukaannya menerima tamu. Ada kepercayaan dan penghargaan yang tinggi terhadap tamu. Yang penting sang tamu hanya perlu membawa pinang atau permen. Saya pun akan dengan senang hati melakukan Para Pinang-pinang, yakni ritual memakan pinang dan sirih sebagai simbol persaudaraan. Tahu sendiri, setelah menginang gigi kami akan memerah. Lalu, kami akan tertawa bersama-sama sambil melakukan mob alias guyonan khas Papua.

Dan, pada sebuah senja yang indah di salah satu pulau Raja Ampat, saya ingin bercengkerama dengan anak-anak Raja Ampat. Mereka pasti begitu riang bermain ‘cebar-cebur’ di perairan yang menguning karena sinar baskara senja. Jujur, saya suka dengan ekspresi bocah-bocah. Saya yakin dari ekspresi mereka terlihat harapan besar untuk senantiasa melestarikan Raja Ampat. Bocah-bocah Raja Ampat menjadi penjaga segala kearifan hidup masyarakat Raja Ampat di masa depan. Saya pun ikut meloncat, membenamkan diri dengan keriuhan bocah-bocah…


***

Sebuah tempat yang dianggap surga dunia tentu saja akan banyak dikunjungi orang. Apalagi sebagai surga terakhir di bumi. Surga selalu dibayangkan dengan segala-gala keindahan. Raja Ampat semakin hari semakin populer di mata pejalan. Tak hanya bagi para penyelam yang tertarik mengeksplorasi alam bawah laut Raja Ampat, tetapi juga para wisatawan biasa yang sekedar datang untuk melampiaskan takjub melihat-lihat panorama Raja Ampat.  

Saya pikir ini jelas kabar baik untuk pariwisata Raja Ampat. Namun, di balik kabar baik ini rasanya patut khawatir tentang masa depan Raja Ampat.

Fina @Ladibaa. Kawan saya yang sudah menjelajah di Raja Ampat. Saya suatu saat pasti akan ke Raja Ampat.
Dokumentasi: @Ladibaa

Saat bersama anak-anak Desa Arborek. @Ladibaa.
Dokumentasi: @Ladibaa

“Bisa jadi suatu saat Raja Ampat akan seperti Bali. Pariwisata membuat Bali tidak lagi alami dan terumbu karang banyak  yang rusak.” ungkap seorang pemandu selam Raja Ampat kepada Fina @Ladibaa, suatu waktu.

Jujur, saya juga tak rela keindahan Raja Ampat akan terenggut oleh tangan-tangan ramai wisatawan yang tak tahu dan mau menjaga kelestarian alam dan budaya. Hanya berbekal uang tanpa  pengetahuan konservasi, wisatawan tipe ini datang sesuka hati ke Raja Ampat. Saat masyarakat setempat mati-matian merawat kelestarian Raja Ampat, mereka malah merusaknya. Dan, saya pikir wisatawan tipe ini jumlahnya sangat banyak. Saya pikir merekalah pemburu surga dunia paling ambisius.

Biarlah Raja Ampat sebagai surga terakhir di dunia! The Last Paradise on Earth. Sebagai surga terakhir, saya rasa tak perlu semua orang untuk memasukinya. Hanya orang-orang  pilihan saja yang beruntung mengenyam keindahan surgawi Raja Ampat. Dan, saya selalu berdoa dan berusaha agar menjadi orang yang ditakdirkan untuk bisa menikmati surga dunia Raja Ampat. Saya tak ingin rugi dalam hidup ini.  



Catatan:
- 1 Kalimat ini terinspirasi dari novel Rumah Kaca karangan Pramoedya Ananta Toer. Pada halaman 352, Minke, sang tokoh utama, berkata “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”
- Semua foto di tulisan ini bukanlah milik saya karena saya belum pernah ke Raja Ampat. Saya ambil dari website resmi Kemenparekraf RI indonesia.travel dan Pemda Kabupaten Raja Ampat gorajaampat.com. Beberapa foto merupakan koleksi pribadi Fina @ladibaa yang memiliki blog pribadi nonajanuari.wordpress.com 
- Tulisan ini diikutsertakan pada lomba Blog Kompetisi Penulisan dan Foto Bertema Sail Raja Ampat 2014: Wonderful Indonesia Blogging & Foto Contest yang bisa dilihat di http://indonesia.travel/contest/raja-ampat-2014/

Sumber bacaan:
-          Pemberontakan Nuku, Persekutuan Lintas Budaya di Maluku Papua Sekitar 1780 – 1810. Buku karya Muridjan Widjojo (2013)
-          Raja Ampat: Ekspedisi Bawah Laut Terbaik di Dunia, pada http://www.indonesia.travel/id/destination/248/raja-ampat
-          Kepulauan Raja Ampat, pada http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Raja_Ampat
-          Wayag: Jalur Lautan Kepulauan Raja Ampat nan Indah, pada http://www.indonesia.travel/id/destination/83/wayag
-          Discover Islands, pada http://www.gorajaampat.com/discover-islands
-          Art and Culture, pada http://www.gorajaampat.com/art-culture
-          Sasi Rajaha, Penjaga Keindahan Alam Raja Ampat, pada http://travel.okezone.com/read/2013/01/22/408/750316/sasi-rajaha-penjaga-keindahan-alam-raja-ampat

You Might Also Like

0 komentar

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe