Melenggang Saja Senja Embung Nglanggeran

19.38

Sunset di Embung Nglanggeran.

Yang terlupa dari senja adalah kita melewatinya tanpa sejejak makna. Kadang kita terlalu asyik untuk mengabadikannya hingga senja tak terasa sudah cepat meninggalkan kita. Lantas apa yang diperoleh dari senja? Kita lebih banyak hanya mendapat remah-remah senja berupa potret narsis backlight yang sudah pasti sangat mainstream. Kita pun pulang pada haribaan malam dengan tangan hampa tanpa hakikat sesungguhnya tentang senja.

Saya yakin Embung Nglanggeran sudah terlampau populer sebagai ruang menyongsong senja di Yogyakarta. Nyatanya, sore itu saya hanya senoktah manusia di antara ratusan yang antusias mengantarkan siang kepada sang malam. Untuk menaiki tangga menuju atas Embung Nglanggeran, saya harus mengantri, berjalan pelan. Untunglah, sore masih belum terlampau surut. Tidak perlu tergesa-gesa.

Berada di atas Embung Nglanggeran, saya berjumpa dengan realitas puluhan anak muda. Ya, memang penikmat Embung Nglanggeran di sore hari kebanyakan adalah anak muda yang berpasang-pasangan ataupun berkelompokan. Sebuah kabar baik bahwa makin banyak juga anak muda yang berminat untuk menjadi penikmat senja. Saya rasa hal demikian lumrah karena senja menawarkan momen yang kaya dengan warna. Bukankah hidup di masa muda itu indah jika penuh warna?

Seperti biasanya, yang namanya anak muda itu masa penuh ekspresi. Di sudut manapun, di Embung Nglanggeran pasti saya temui adegan narsis. Terlebih sekarang dengan adanya tongsis, narsis makin gampang dilakukan. Gaya-gayanya pun makin bervariatif. Ah, sudahlah, melihat mereka hanya mengingatkan masa muda saya. Mereka pantas bergembira dalam haribaan senja. 

Gunung Purba Nglanggeran satu kawasan dengan Embung Nglanggeran
Suasana Embung Nglanggeran yang ramai. Favorit untuk menyaksikan sunset di Yogya.

Matahari yang membulat penuh itu mulai turun perlahan. Untunglah awan tipis di ufuk barat bisa menjadi filter alami agar baskara bisa terjaga tersaksikan membulat sempurna. Pada momen ini, saya tak habis pikir, banyak muda-mudi yang berfoto dengan membelakangi matahari. Sudah pasti akan backlight. Namun mereka tetap saja dengan ekspresi muka yang penuh totalitas. Terlebih sambil manyun bahkan melotot. Saya yakin wajah mereka di foto akan menghitam membentuk siluet karena mereka tak memakai flash. Ah, sudahlah, melihat ekspresi mereka saya hanya mengelus dada milik sendiri.

Saya mulai cukup bergembira saat perlahan hari mulai menggelap. Matahari sudah sempurna tenggelam, yang tersisa hanya semburatnya saja. Lampu-lampu yang mengelilingi Embung Nglanggeran pun menyala.Keramaian anak muda mulai melirih. Sepertinya, mereka adalah anak-anak baik sehingga saat maghrib harus pulang menuju rumah atau kosnya  masing-masing.

Saat itulah romantika petang  ala Embung Nglanggeran mulai terasa. Saya yakin jika ada cowok yang membawa ceweknya ke Embung Nglanggeran dan menikmati saat petang seperti ini pasti si cewek akan makin lengket dengan pada cowoknya. “Romantis”, begitulah satu kata yang menggambarkan Embung Nglanggeran mulai menapak malam.

Namun, tak ada yang lebih menyedihkan saat saya tersadar bahwa ternyata senja begitu cepat meninggalkan saya. Saya sedari tadi terlalu sibuk mengabadikan mentari turun ke peraduan. Saya sedari tadi terlalu asyik memerhatikan para remaja narsis di tiap-tiap penjuru Embung Nglanggeran. Kini pun saya hanya terhibur oleh lampu-lampu yang memeriahkan suasana petang Embung Nglanggeran. Itupun tak berpasangan, saya sekedar menikmatinya sendiri saja.

Lantas, apa hakikat senja di Embung Nglanggeran sore ini? Bagi saya, tidak ada. Kecuali saya hanya menemui Embung Nglanggeran itu adalah tempat indah untuk menikmati senja di Yogyakarta. Itu saja.   

Lampu Embung dinyalakan menyongsong malam. Romantis.
Semakin malam semakin sepi Embung Nglanggeran. Tapi bagi saya inilah kenikmatannya.
Sore yang menyenangkan bagi anak-anak muda di Ngalnggeran

You Might Also Like

7 komentar

  1. Balasan
    1. makasih mas Ambyah Chrayu,,
      Salam kenal..

      Hapus
  2. kmaren lebaran udah kesana,cmn mau nugguin sunset takut maghrib kelewat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lain kali dicoba mbak Yerie hingga malam di sana. Ada mushola kok di kawasan tempat parkir.. :D

      makasih udah berkunjung. Salam kenal..

      Hapus
  3. Wow, benar-benar eksotis untuk menghantar sang surya menuju peraduannya ...
    Btw. dari tempat parkir mobil, seberapa jauh dan tinggi mas ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas, salah satu tempat bagus untuk menikmati sunset di Yogyakarta. Apalagi pas matahari udah terbenam, jangan buru-buru pulang. Nikmati lampu2 yg menngelilingi EMbung Nglanggeran..
      Tidak jauh dari tempat parkir. Tempat parkir di bawah Embung. Paling jalan 5-10 menit saja.. :D

      Hapus
  4. pemandangan senja di embung nglanggeran terlihat sangat indah..

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe