Renjana #3: Tanjung Soke

18.14

Kompleks pemakaman Dayak di Tanjung Soke.

"Perlihatkanlah aku tentang perjalanan apa adanya!” entah kenapa dia tiba-tiba menghubungiku dalam dingin tengah malam Yogya. Ternyata dia sedang tak bisa tidur. Aku pun juga sedang tidak bisa tidur karena hidung mampet.

Maka, aku pun tunjukkan kisah perjalanan ke kampung halaman Taslim.

Oh iya, kamu pikir aku beperjalanan selama ini hanya untuk melihat tempat-tempat yang dibentuk sebagai destinasi wisata? Kamu pikir aku sekedar menuliskan tempat-tempat wisata yang indah? Kamu pikir aku juga senang mencatatkan cerita tentang absurdisitas tempat wisata? Aku rasa kamu perlu menyimak kisahku ke Tanjung Soke. Apa soalnnya? Ke Tanjung Soke, aku tidak berwisata. Ke Tanjung Soke, aku melakukan pekerjaan survey sarana prasarana pendidikan di Kabupaten Kutai Barat. Aku ingin menujukkan realitas apa adanya, tidak lebih dan tidak kurang.

Ya, seperti inilah memang apa adanya. Tidak usah kamu menganggap aku melebihkan cerita sok heroik kalau memang menuju Tanjung Soke butuh perjuangan keras. Menuju ke Tanjung Soke berarti melewati jalanan tanah yang rusaknya parah minta ampun. Jangan pikir untuk menuju ke Tanjung Soke saat musim hujan. Aku saja sampai menunggu dua hari sampai jalannya lumayan kering untuk bisa dilintasi.  Syukurlah waktu itu tidak hujan lagi.

“Kalau hujan, tamat sudah. Mobil bisa berkubang di lumpur. Tunggu sampai kering. Nangis kita di tengah hutan. Jangan harap ada orang yang lewat untuk menolong.” ungkap Kristianto

Waktu itu aku ditemani oleh Kristianto dan Munir, yang merupakan Kepala SD dan SMP di Lemper Deraya yang satu jurusan dengan Tanjung Soke. Keduanya menetap di Resak, ibukota Kecamatan Bongan yang terletak di tengah jalur trans Kalimantan dari Samarinda – Sendawar, tepat sekitar 4 jam dari ibukota provinsi Kalimantan Timur maupun ibukota kabupaten Kutai Barat. Dari Resak, jarak sejauh 42 km ditempuh selama tiga jam menggunakan mobil double gardan.

Tahukah kamu? Mobil semacam Mitsubishi Ranger atau Toyota Hilux tak ada yang berani menuju Tanjung Soke, kecuali nekat ingin rusak. Adanya cuma Daihatsu Taft yang dari penampakannya begitu reot tapi ternyata dari segi mesin paling bisa diandalkan. Beruntunglah kami disupiri oleh Omeng yang sangat terbiasa membawa orang maupun logistik ke Tanjung Soke. Orang asal Kutai ini sudah sangat hafal medan bahkan sampai kedalaman kubangan-kubangannya.

Sepanjang perjalanan ke Tanjung Soke, aku hanya melihat hutan lebat yang berselang seling dengan kebun sawit. Aku pikir sepuluh tahun lalu daerah ini masih hutan semua. Tapi, ya inilah khas Kalimantan. Kebun sawit telah begitu sporadis dan rakus melahap hutan lestari demi nafsu ekonomi. Sepanjang menuju Tanjung Soke, aku hanya melintasi dua kampung kecil nan sunyi: Pering Taliq dan Lemper. Benar-benar sebuah perjalanan ke tempat yang menusuk ke jantung pedalaman Borneo.

Setiba di Tanjung Soke, aku benar-benar menemui kampung  kecil dan hening yang dikelilingi oleh lebatnya hutan. Paling dihuni oleh sekitar 150 penduduk saja. Tapi keramahan Taslim dan dua rekannya langsung membuyarkan kesunyian itu. Mereka adalah guru muda asli Tanjung Soke yang rela mengabdi di kampung halamannya.

“Kalau bukan anak sini, siapa yang mau mengabdi di kampung terpelosok seperti ini?” ungkap Taslim apa adanya.

Betul juga katanya. Aku membayangkan diriku sendiri saja untuk mengabdi di sini dalam jangka waktu yang lama, apalagi permanen rasanya adalah sebuah kemustahilan. Tak ada sinyal. Tak ada keramaian. Hanya hutan dan hutan. Kalau kamu bagaimana? Rasanya kamu juga tak akan mampu. Barangkali jika mampu, kamu paling mengabdi setahun di sini dalam program pengabdian mengajar yang menginspirasi. Meski jujur kamu pasti juga begitu tersiksa dengan suasana seperti ini.

Tahukah kamu? Jangan bayangkan kondisi sekolah di Tanjung Soke seperti kondisi sekolah di Jawa. Mau aku tunjukkan? Hanya ada tiga ruang kelas. Itupun satu ruang kelas digunakan sebagai ruang guru. Tersisa dua kelas yang dibagi untuk kelas 1,2,3 dan 4,5,6 yang digunakan sekaligus. Jangan harap ada perpustakaan. Toiletpun tidak ada. Betul-betul hanya satu bangunan sekolah yang terdiri dari tiga ruang, yang kelihatannya masih baru tapi jujur sudah rusak di sana-sini dan tidak ada perbaikan.

Bagaimana dengan gurunya? Setali tiga uang. Ada lima guru termasuk kepala sekolah. Tapi, jangan harap semuanya aktif mengajar. Biasanya sang kepala sekolah lebih memilih tinggal di kota kecamatan dan hanya dua kali sebulan menengok sekolah. Guru pun bergantian mengajar karena masih ada yang studi sarjana. Sekedar info untukmu, semua guru merupakan lulusan SMA. Di sini, mendapati orang lulusan SMA saja merupakan sebuah kemewahan.     

Ya, sekolah ini apa adanya. SDN Tanjung Soke dibangun di antara lahan kuburan masyarakat. Dari segi budaya, sebenarnya inilah yang menjadi daya tarik Tanjung Soke. Tanjung Soke merupakan kampung Dayak Paser yang masih menjaga kuat tradisinya. Uniknya, mayoritas warga Tanjung Soke adalah penganut agama Islam. Tak heran di sebelah kiri sekolah  terdapat kompleks pekuburan muslim lengkap dengan nisannya. Adapun di sebelah kanan merupakan kompleks pekuburan adat suku Dayak yang sudah berusia ratusan tahun.

Tampaknya, saat ini sudah tidak ada lagi warga di Tanjung Soke yang dikuburkan dalam tempelaaq dan kererekngTempelaaq adalah kuburan khas Dayak dimana peti disangga oleh dua tiang, adapun kererekng adalah peti yang disangga satu tiang. Di kompleks ini juga ditemui banyak Belontankq, patung khas Dayak yang berwujud manusia.  Aku pikir meski tidak digunakan lagi, kompleks pekuburan Dayak di Tanjung Soke tetap digunakan dan dilestarikan sebagai warisan luhur budaya. Ada bekas panggung yang belum lama digunakan untuk upacara Erau, perayaan tradisi khas Dayak.

Awalnya aku ke Tanjung Soke tertarik juga untuk melihat mumi seorang perempuan yang masih tumbuh rambut  dan kukunya. Aku dengar cerita mumi dari masyarakat di Resak yang aku yakin juga tidak banyak yang pernah ke Tanjung Soke. Di Kalimantan itu, satu kecamatan luasnya sama dengan satu kabupaten di Jawa.  Aku coba konfirmasi keberadaannya kepada Taslim, tapi ternyata sudah dikuburkan sejak 2003 lalu. Iya, sejak agama Islam makin kuat dipeluk warga, cara pemakaman pun dilakukan secara Islami dengan dikubur di tanah.   

Aku tak lama di Tanjung Soke. Tapi, perjalanan menuju Tanjung Soke telah memperlihatkanku bahwa beginilah realitas apa adanya di pedalaman Kalimantan. Aku yakin kasus seperti Tanjung Soke ini sangat banyak. Menjadi provinsi kaya SDA tambang, tak bisa menjamin Kalimantan Timur bisa membangun infrastruktur yang memuaskan. Apa sebabnya? Aku rasa kamu tahu. Ya, misal tidak meratanya anggaran, korupsi dan masih banyak sebab lainnya.

Sebenarnya aku ingin lebih banyak bercerita. Tapi, aku rasa kamu sudah bosan mendengar ceritanya. “Kok semuanya memprihatinkan sih?” Tuh kan! Ya, beginilah jika tentang apa adanya. Aku tak ingin kamu hanya tahu bahwa perjalanan hanya tentang destinasi, itupun destinasi yang menurutmu indah-indah, keren, terkenal, eksotis, emejings, pecah atau apalah istilahmu. Minimal sesekali berjalanlah ke tempat-tempat yang tidak dibentuk sebagai destinasi wisata. Nikmati segala keapaadaannya.

Yaaaah, aku ditinggal tidur. Sialan kamu…! Ceritaku tentang perjalanan apa adanya malah jadi nyanyian nina bobokmu. Baiklah… Kamu memang sukanya minta diceritakan yang ‘adanya apa’. Huuuuh.. 

Bersama Taslim. Guru muda yang mengabdi untuk kampung halamannya.
Perjalanan menembus hutan liar. Berjumpa kerbau.
Omeng sedang mendinginkan mobil. Jalan yang rusak berat membuat mobil berkali-kali berhenti.
Sampai harus mencopot shockbreaker yang ambrol gegara jalanan hancur. 
SDN Tanjung Soke. Hanya inilah bangunan sekolah. Tiga ruang saja. Kelas digabung.
Perkampungan Tanjung Soke yang sangat sunyi. Dikelilingi hutan lebat. Akses sangat susah.
Taman Kererekng di Tanjung Soke. Kuburan khas Dayak.
Bekas panggung Erau, upacara masyarakat Dayak.
Sudah tidak digunakan lagi. 
Kuburan muslim Dayak di Tanjung Soke.
Dua bocah manis Kampung Tanjung Soke. 
Perjalanan pulang harus menembus senja.

You Might Also Like

4 komentar

  1. Wow amazing mas keren dah jalan-jalnnay sampe pelosok gitu keren" mas Iqbal mantap abis dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah makasih mas Angki.. :D waktu itu pas kebetulan ada pekerjaan di Kalimantan.. hehe.. :D

      Hapus
  2. Salam kenal Mas Iqbal, saya dulu tinggal di Ibukota Kabupatennya Tanjung Soke; Melak. Kira-kira 3-4 jam-an Transportasi Menuju Melak, Kutai Barat

    BalasHapus
  3. jalannya sangat sulit untuk di gunakan, mungkin karena berlumpur ya..

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe