| Sepenggal savana Sumba beserta kuda-kudanya. travel.kompas.com |
Rinduku pada Sumba
adalah rindu padang-padang terbuka / Di mana matahari bagai bola api, cuaca
kering dan ternak melenguh / Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda /
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.
Sepenggal bait akhir puisi “Beri Daku Sumba” sudah lama berputar-putar pada labirin otak saya. Menunggu jalan keluar. Mewujud nyata. Sang penyair, Taufik Ismail, tahu betul bagaimana saya begitu merindu pada tanah Sumba. Rindu sekali bisa hadir menyesap aroma savana-savana luas dengan kuda-kuda yang melenggang bebas. Rindu sekali dapat bercengkerama dengan pria-pria yang duduk gagah di punggung kuda mahir menggiring gembala. Rindu sekali Sumba bisa jadi nyata.
Sebuah senja pada sebuah awal Januari tahun ini, di
Malioboro Jogja. Ribuan kilometer dari Sumba. Saya terduduk di antara lalu
lalang pejalan. Di antara hiruk pikuk kendaraan. Di antara realitas bersenang-senang
wisatawan. Saya sedang menunggu seorang dia. Kami berjanji bertemu untuk menyusun
‘itenary’ perjalanan. Sebuah perjalanan petualangan yang saya beri tajuk
“Kembara Nusa Tenggara”. Sumba menjadi satu wilayah yang akan kami sambangi.
Flobamor – Flores Sumba Timor tapi tanpa Alor – pada penghujung akhir Februari.
Tapi, setengah jam sudah saya menunggu. Tak jua datang seorang
dia. Ah, bukannya cemas, suasana riuh Malioboro membawa imajinasi saya pada
sosok Umbu. Siapakah Umbu? Umbu tidaklah asing dengan Malioboro. Lelaki ini juga
tidaklah asing tentang Sumba. Karena Umbu lah, Malioboro dan Sumba menjadi
wilayah yang sangat dekat dan akrab. Ribuan kilometer tak lagi berjarak. Umbu
adalah “Presiden Malioboro”. Umbu adalah legenda puisi dari Sumba.
Nama lengkapnya Umbu Wulang Landu Paranggi. Padanya mengalir
darah bangsawan, cucu seorang raja Sumba. Dia dilahirkan di Kananggar,
Waingapu, NTT, 10 Agustus 1943. Meski lahir di Sumba, dia selalu menganggap
Yogyakarta adalah tempat kelahiran keduanya. Umbu terlibat membidani dan
mengasuh Persada Studi Klub (PSK) di Yogyakarta tahun 1969. Karena kebiasaannya
nongkrong di kawasan Jalan Malioboro, dia dijuluki “Presiden Malioboro”. Hingga
1979, Umbu pindah ke Bali.
Di Uzbekistan, ada
padang terbuka dan berdebu / Aneh, aku jadi ingat pada Umbu










