![]() |
| Senja Pantai Nglambor Gunungkidul |
Narasi kehidupan kadang menjemukan. Ia butuh pelampiasan. Butuh pelarian. Senja bisa menjadi semacam ekstasi pembebasan. Penenang sekaligus penghibur sesaat dalam nestapa bayang-bayang. Memerdekakan sejenak dari belenggu absurd dialektika kegamangan. Dan, diri saya tertambat pada kesunyian sebuah sore di Pantai Nglambor. Terpencil. Terpelosok.
Baskara kuning perlahan menuju cakrawala. Elegan. Entah kenapa. Barangkali keberuntungan saya, surya jatuh ke lautan tepat pada sebuah celah. Di antara tebing dan pulau karang. Sepertinya dia butuh sang pengapit untuk menjaganya seimbang. Manja. Tapi itulah estetika dalam senja. Matahari pun lekas menyentuh ufuk barat. Tenggelam. Tertelan oleh lautan Samudera Hindia.
Semburat jingga kini menjadi sisa penampakan sang surya. Langit memerah dengan padanan garis awan diagonal. Memanjang seperti dia lah sang lukisan tunggal semesta. Deburan ombak menyapu kaki saya. Pasir putih di pijakan terasa makin dingin. Angin dari buritan daratan menyapu bagian belakang saya. Jenis angin inilah yang mengantarkan bapak-bapak nelayan mengarungi lautan dalam pekat malam. Mengais nafkah penghidupan di samudera lapang.
Saat inilah, kedamaian timbul dari sanubari sukma. Terbit di antara tenggelamnya senja. Kegalauan saya pun berhasil terhalau dalam sebuah ayat. Saya merapalkannya dalam kesendirian. Sekedar berteman suara ombak perlahan.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS Ali Imran 190)Beberapa menit kemudian, dua pulau karang besar pelindung Pantai Nglambor mulai menghitam. Warna hijau rerumputan pada daratan curam karang itu menjadi samar. Lautan lepas pun tak lagi biru, tapi kelam diselimut kegelapan. Pulang.










































