![]() |
| Bori' Kalimbuang, Situs Megalitik Toraja |
Batu-batu tegak berdiri pada hamparan hijau tanah rumput. Berbentuk menhir. Tinggi memanjang menyembul dari daratan. Tapi tak seragam. Ada yang kecil, ada yang besar. Ada yang pendek ada yang tinggi. Saya tertarik menyelinap masuk di antara bebatuan ini. Berpindah dari satu batu ke batu lain. Kilat tak menjejakkan suara. Ah, saya sedang iseng bermain sembunyi-sembunyian. Dooorrr! Basho terkaget ketika sibuk mencari saya yang seperti hilang tertelan di Rante Kalimbuang.
“Keseluruhan batu menhir di sini konon berjumlah 102 buah. Terdiri dari 54 menhir kecil, 24 sedang dan 24 batu berukuran besar. “jelas Basho seraya ia menguasai diri dari keterkagetannya. Untung saja Basho orangnya ramah. Tak nampak ada marah setelah saya jahili. Dia sangat profesional.
Rante Kalimbuang merupakan kawasan utama di Bori’ Kalimbuang, Sesean, Toraja Utara. Rante menjadi tempat upacara pemakaman adat atau Rambu Solo’ yang dilengkapi dengan menhir-menhir yang dikenal dalam bahasa Toraja sebagai simbuang batu. Di Tana Toraja sebenarnya banyak ditemukan situs megalith seperti ini. Di Bori Kalimbuang, menhir didirikan demi menghormati pemuka adat atau keluarga bangsawan yang meninggal. Bebatuan menhir ini ada yang berusia hingga ratusan tahun.
Tidak sembarang untuk membangun menhir. Masyarakat harus mengadakan suatu upacara adat yang dinamakan Rapasan Sapurandanan. Dalam upacara ini, kerbau yang dikurbankan minimal sejumlah 24 ekor. Jumlah yang dikorbankan sesungguhnya tidak berdampak pada ukuran tinggi dan besar menhir. Sama saja nilai adatnya. Tetapi sekarang, banyak orang yang menganggap semakin tinggi dan besar menhir yang didirikan, maka semakin tinggi derajat kebangsawanannya. Barangkali benar juga. Pada menhir-menhir yang tinggi, saya amati batuannya masih tampak baru.





























